IndonesiaBuzz: Solo, 7 Februari 2026 – Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar pengetan 100 hari surud dalem SISKS Pakoe Boewono XIII di Sasana Parasdya, Sabtu (7/2/26) malam.
Suasana hujan tak menyurutkan kekhidmatan acara tersebut, ketika para sentono dalem, abdi dalem, dan masyarakat mulai berdatangan untuk mengikuti rangkaian doa mengenang wafatnya raja yang pernah memimpin Surakarta tersebut.
Dari pantauan langsung di lokasi, Pakoe Boewono XIV tampak memasuki Sasana Parasdya beberapa saat sebelum acara dimulai. Mengenakan beskap biru lengkap dengan blangkon, ia berjalan tenang menuju tempat yang telah disediakan di barisan depan.
Di belakangnya, sang ibunda turut hadir, duduk mendampingi dengan wajah teduh. Kehadiran raja yang kini bertahta itu menjadi simbol kesinambungan dinasti Mataram Surakarta sekaligus penegasan bahwa tradisi keraton tetap berjalan dalam bingkai adat dan tata krama yang terjaga.
Sasana Parasdya malam itu dipenuhi tamu undangan dan keluarga besar keraton. Gusti Kanjeng Ratu Ageng hadir bersama KGPH Panembahan Adipati Dipokusumo, GKR Alit, serta sejumlah putri mendiang Pakoe Boewono XIII, di antaranya GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, GKR Anom Sekar Jati, dan GKR Sekar Kirono.
Barisan sentono dalem dan abdi dalem dengan busana adat Jawa melengkapi suasana, sementara masyarakat umum juga memadati area Sasana Parasedya, mengikuti doa dengan khusyuk.
Lantunan tahlil dan doa menggema pelan di area plataran Kraton Surakarta. Para ulama memimpin pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, diikuti para hadirin dengan suara lirih namun serempak. Tradisi pengetan 100 hari atau nyatus merupakan bagian penting dalam budaya Jawa-Islam, sebagai bentuk doa bersama sekaligus penghormatan terakhir kepada almarhum setelah genap seratus hari wafat.
Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara berjalan sesuai adat yang berlaku di lingkungan keraton.
“Rangkaiannya ya doa tahlil seperti pada umumnya. Kemudian nanti besok akan dilanjutkan ke Imogiri,” ujarnya usai acara.
Ia menambahkan, pada Minggu (8/2/226) pagi, keluarga besar Kraton Surakarta akan melaksanakan ziarah ke makam mendiang Pakoe Boewono XIII di Pajimatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kompleks pemakaman raja-raja Mataram itu menjadi tempat peristirahatan terakhir para penguasa Surakarta dan Yogyakarta, sehingga ziarah tersebut memiliki makna historis sekaligus spiritual.
Tak hanya berhenti di Sasana Parasdya, rangkaian pengetan juga berlanjut pada malam harinya, Minggu (8/2/26) pukul 20.00 WIB di Kagungan Dalem Masjid Agung Surakarta. Di masjid yang berdiri sejak abad ke-18 itu, doa bersama kembali dipanjatkan untuk almarhum SISKS Pakoe Boewono XIII. Masjid Agung sendiri memiliki keterikatan erat dengan Keraton Kasunanan, baik secara historis maupun simbolik, sehingga menjadi lokasi penting dalam setiap peringatan spiritual kerajaan.
Pengetan 100 hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi bagi keluarga besar keraton dan masyarakat Surakarta. Sosok Pakoe Boewono XIII dikenang sebagai figur yang memimpin di tengah dinamika internal keraton dan perubahan zaman. Kepergiannya meninggalkan jejak sejarah tersendiri dalam perjalanan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Di tengah modernitas kota Solo yang terus bergerak, tradisi seperti pengetan 100 hari menjadi penanda bahwa nilai-nilai adat dan spiritualitas Jawa masih dijaga. Lantunan doa malam itu bukan hanya ditujukan untuk mendiang raja, tetapi juga menjadi pengikat batin antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Kraton Surakarta. @eko-m







