IndonesiaBuzz: Eko sigit Pujianto – Isu ijazah palsu yang kembali digulirkan terhadap mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, sesungguhnya bukan sekadar soal dokumen akademik. Penulis melihat, aroma politis dari polemik ini begitu kental. Target yang sesungguhnya bukanlah keaslian ijazah itu sendiri, melainkan upaya sistematis untuk membunuh karakter dan melemahkan pengaruh seorang tokoh yang masih memiliki magnet kuat di panggung politik nasional.
Universitas Gadjah Mada (UGM) institusi pendidikan dengan kredibilitas yang tak diragukan sudah menegaskan keaslian ijazah tersebut. Bahkan alumni seangkatan pun ikut menjadi saksi. Secara akademis dan legal, mestinya perdebatan selesai. Namun, faktanya, nama-nama seperti Roy Suryo, dr. Tifa, hingga Rismon Sianipar terus menggiring isu. Narasi yang diulang-ulang, dikemas seolah penelitian, tapi jauh dari etika akademis dan adab hukum. Publik pun akhirnya digiring ke dalam kebingungan, seolah-olah ada yang disembunyikan.
Di balik manuver ini, penulis melihat ada agenda lebih besar. Rekam jejak Jokowi saat menjabat presiden tidak bisa dilepaskan dari geopolitik global, pecah nya seorang kader dari salah satu partai terbesar di Indonesia,Penutupan Petral, pengambilalihan saham Freeport yang mengusik kepentingan Amerika, hilirisasi nikel yang memicu gugatan Uni Eropa di WTO, hingga keputusan berani membawa Indonesia bergabung ke dalam BRICS. Semua langkah itu menjadikan Indonesia lebih berdaulat, tapi sekaligus menimbulkan kegelisahan di berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri.
Karena itu, wajar jika muncul tafsir bahwa isu ijazah hanyalah pintu masuk untuk mendeligitimasi warisan politik Jokowi. Apakah ini sekadar strategi suksesi elektoral menjelang 2029, atau upaya mengikis legitimasi Gibran di panggung politik nasional? Atau, jangan-jangan, semua ini hanyalah “ladang ngamen” politik bagi segelintir orang yang gemar tampil di panggung televisi, mengemas sensasi sebagai komoditas opini publik.
Publik hari ini tidak lagi buta. Mereka bisa membaca bahwa isu ijazah hanyalah topeng dari drama politik yang jauh lebih dalam. Pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi “asli atau palsu,” melainkan, siapa yang diuntungkan dari polemik ini, dan untuk kepentingan siapa panggung ini dimainkan?@sigit





