IndonesiaBuzz: Yogyakarta, 16 Juli 2025 – Penanganan sampah di Kota Yogyakarta kembali mendapat sorotan tajam. Lonjakan volume sampah usai liburan sekolah belum sepenuhnya teratasi, memicu tumpukan sampah di sejumlah depo dan TPS yang menimbulkan bau tak sedap di kawasan padat penduduk dan wisata.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengakui pihaknya harus berpikir keras untuk menormalkan kondisi ini. Berdasarkan data, sampah yang tertahan di depo masih sekitar 60 ton per hari dari total produksi harian sekitar 260 ton. Sementara yang berhasil tertangani baru sekitar 190 ton.
“Kalau kami tidak punya jurus baru, normal itu sulit ya. Makanya saya jujur, harus punya jurus-jurus baru,” ujar Hasto, Selasa (15/7/2025).
Hasto menuturkan, keterbatasan kapasitas Unit Pengolahan Sampah (UPS) serta kendala pengolahan di TPST Piyungan menjadi faktor utama penumpukan. Kondisi diperburuk dengan berhentinya pengolahan sampah di luar daerah akibat penertiban penggunaan insinerator yang dinilai belum sesuai kaidah lingkungan.
“Situasinya sekarang masa kritis, jadi perlu langkah cepat dan inovatif,” ucapnya.
Sebagai langkah awal, Pemkot Yogyakarta tengah menguji coba program pemilahan sampah di empat depo: Depo Mandala Krida, Depo THR Brigjen Katamso, Depo Lapangan Karang, dan Depo Kotabaru di selatan Kantor RRI. Empat depo ini mencakup 21 kelurahan di Kota Yogyakarta.
“Kami uji coba dengan metode padat karya, melihat apakah ada penurunan sampah. Yang sudah bagus di Depo Lapangan Karang, kemarin malam jam sembilan sudah bersih,” kata Hasto.
Selain pemilahan di depo, Pemkot juga menggencarkan edukasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dan penggerobak. Di Depo Kotabaru, misalnya, 15 penggerobak diinstruksikan agar tidak membawa sampah plastik sama sekali, dengan janji pemberian insentif.
“Ini sambil mendidik masyarakat dan penggerobak untuk memilah. Kalau tidak, sampah akan overload di hilir,” ujar Hasto.
Dengan langkah-langkah tersebut, Hasto berharap sisa sampah yang belum terkelola bisa ditekan, terutama sampah plastik yang sulit terurai. “Kuncinya adalah memilah, baik di depo maupun di tingkat penggerobak,” tegasnya.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen 100 hari kerja Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan yang dicanangkan sejak awal menjabat, meski tantangan di lapangan masih cukup besar terutama pada masa-masa lonjakan wisatawan.







