IndonesiaBuzz: Solo, 1 Maret 2024 – Ratusan orang yang tergabung dalam Gerakan Penegakan Kedaulatan Rakyat Soloraya menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota Solo pada Jumat (1/3/2024) siang. Meskipun diguyur hujan deras, para peserta demo yang mengenakan mantel, menggunakan payung, dan ada yang berteduh di bawah pohon tetap semangat menyuarakan penolakan terhadap hasil Pemilu 2024.
Aksi unjuk rasa dimulai dengan orasi-orasi yang dilakukan oleh sejumlah orang menggunakan pengeras suara, meskipun cuaca gerimis terus mengguyur. Hujan akhirnya reda sekitar pukul 14.35 WIB, tetapi semangat para peserta demo tidak surut.
Jumlah peserta demo terus bertambah seiring berjalannya waktu. Mereka datang dengan becak yang bertuliskan “Tolak Oligarki” dan membawa spanduk-spanduk dengan berbagai tuntutan, termasuk dukungan terhadap hak angket, desakan untuk makzulkan Jokowi, diskualifikasi pasangan calon nomor urut 02, serta tuntutan amputasi anak haram konstitusi Indonesia.
Kondisi arus lalu lintas di Jl Jenderal Sudirman mengalami tersendat akibat aksi demo tersebut. Petugas gabungan dikerahkan untuk membantu mengatur lalu lintas, sementara aparat memberikan pengamanan selama warga melakukan unjuk rasa.
Salah satu orator yang juga merupakan aktivis mahasiswa ’98, Ahmad Farid Umar Assegaf, menyampaikan klaim bahwa Pemilu 2024 merupakan pesta politik yang tidak fair. Dia menyoroti masuknya Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Jokowi, sebagai calon wakil presiden dan mengklaim bahwa cara yang digunakan curang dengan menabrak UUD.
“Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran, dikatakan mendapatkan dukungan APBN dan dana dari BUMN. Rekapitulasi Pemilu 2024 yang dilakukan KPU juga diklaim bermasalah,” ujar Ahmad Farid Umar Assegaf. “Sebagai aktivis ’98, saya menolak neo orba. Kami tidak ingin dipimpin oleh neo orba karena Prabowo merupakan bagian dari orba yang menculik teman-teman kami.”
Selain menolak hasil Pemilu 2024, gerakan ini juga menyatakan tujuan untuk melengserkan Jokowi dari jabatannya sebagai Presiden. Demo ini menjadi gejolak politik yang mencerminkan perbedaan pandangan dan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap proses pemilihan dan hasilnya.







