IndonesiaBuzz: Surakarta, 25 Januari 2026 – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Surakarta menggelar Workshop Pencak Silat di GOR Tapak Suci, Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Minggu (25/1/2026) pagi. Kegiatan ini berfokus pada sosialisasi Peraturan Pertandingan Pencak Silat (PPPS) 2025 revisi yang menitikberatkan keselamatan atlet tanpa meninggalkan kaidah dasar pencak silat.
Workshop dimulai pukul 07.00 WIB dengan registrasi ulang peserta. Selanjutnya, panitia membuka acara secara resmi dan melanjutkannya dengan sambutan Ketua IPSI Kota Surakarta, Ito Indrayana Rangga Wangi. Dalam sambutannya, Ito menekankan pentingnya pemahaman aturan baru bagi atlet, pelatih, dan perangkat pertandingan.
Setelah itu, Rony Syaifullah menyampaikan materi utama. Ia menjelaskan secara rinci perubahan dalam PPPS 2025 revisi, terutama pada sistem penilaian dan teknik pertandingan yang diperbolehkan. Selain itu, ia juga mengulas klasifikasi pelanggaran yang kini dibuat lebih tegas demi menjaga keselamatan atlet.
Tidak hanya menyampaikan teori, panitia juga menggelar sesi praktik jurus tunggal dan jurus regu IPSI. Melalui sesi ini, peserta dapat memahami penerapan aturan terbaru secara langsung di lapangan. Dengan demikian, IPSI berharap tidak terjadi perbedaan tafsir saat aturan diterapkan dalam pertandingan resmi.
Ito menegaskan bahwa workshop ini digelar sebagai respons atas perubahan aturan, khususnya dalam penilaian teknik bantingan. Menurutnya, perubahan tersebut bertujuan mencegah terulangnya insiden fatal yang pernah terjadi di arena pertandingan.
“Dalam aturan terbaru, sistem perolehan poin pada teknik bantingan mengalami perubahan. Beberapa teknik kini masuk kategori pelanggaran berat agar tidak menimbulkan risiko cedera serius,” tegasnya.
Meski menekankan aspek keselamatan, Ito memastikan PPPS 2025 revisi tetap menjaga ruh pencak silat. Unsur dan kaidah silat masih menjadi dasar utama dalam penilaian pertandingan.
“Mulai dari sikap pasang, pola langkah, serang-bela, hingga penutup dengan sikap pasang tetap wajib diterapkan. Jika kaidah silat tidak dijalankan, poin tidak akan diberikan meskipun serangan masuk ke area sah,” tambahnya.
Menurut Ito, ketentuan ini membedakan pencak silat dari cabang bela diri lain. Selain itu, aturan tersebut juga menjaga nilai filosofis dan teknis pencak silat sebagai olahraga tradisional Indonesia.
Melalui workshop ini, IPSI Kota Surakarta berharap seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama terkait PPPS 2025 revisi. Dengan pemahaman yang seragam, pertandingan ke depan diharapkan berjalan lebih aman, adil, dan tetap menjunjung tinggi jati diri pencak silat. @dimas







