IndonesiaBuzz: Jakarta 27 Januari 2024 – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, Sulaeman Tanjung, memberikan tanggapan tegas terhadap pernyataan Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid, yang menyebut warga Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak memilih pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) sebagai “korslet”. Dalam keterangan tertulisnya, Sulaeman menegaskan bahwa warga NU sudah cerdas dan tidak akan memilih calon yang dekat dengan kelompok garis kanan, garis keras.
“Warga NU itu sudah cerdas. Tidak akan pilih calon yang dekat dengan kelompok garis kanan, garis keras. Warga NU yang bermesraan dengan garis kanan itu yang korslet. Jangan dibalik-balik,” ujar Sulaeman Tanjung.
Terkait dengan istilah ‘kanan garis keras’, Sulaeman tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Namun, berdasarkan catatan redaksi mengenai spektrum ideologi politik di Barat, kelompok politik sayap kanan identik dengan kapitalisme konservatif dan ideologi ultra-nasionalisme. Sulaeman menekankan bahwa warga NU cenderung tidak memilih kelompok ‘kanan garis keras’.
Dalam menjelaskan perbedaan spektrum politik, Sulaeman menyebutkan bahwa sayap kiri identik dengan ideologi progresif yang menentang konservatisme dan kapitalisme. Meskipun di Indonesia sayap kiri dalam wujud sosialisme dan komunisme sudah tidak menonjol lagi, istilah politik ‘kanan’ dan ‘kiri’ seringkali tidak diikuti penjelasan memadai.
Sulaeman juga menyoroti posisi beberapa tokoh, termasuk Cak Imin, Gibran Rakabuming, dan Mahfud Md, yang tidak pernah menjabat sebagai pengurus NU. Dia mengingatkan pentingnya memilah calon yang mengklaim NU namun berangkulan dengan kelompok garis keras, terutama jika capres dan cawapresnya memiliki perbedaan ideologi.
“Coba kita lihat, itu Muhaimin apa pengurus NU, Pak Mahfud juga apa pengurus NU. Jadi posisinya sama dengan Mas Gibran. Sama-sama anak NU, lahir dan besar dari orang tua NU,” kata Sulaeman.
Sulaeman menyinggung posisi ayahanda Gibran, Presiden Jokowi, yang saat ini menjadi ketua dewan pengampu Gerakan Keluarga Maslahat NU (GKMNU), sebuah gerakan yang menjadi andalan PBNU.
“Jadi hati-hati dalam memilah. Jangan malah memilih calon yang mengklaim NU tapi malah berangkulan dan bermesraan dengan kelompok garis keras. Apalagi kalau capres dan cawapresnya beda ideologi. Bisa bahaya nanti kalau terpilih,” tambahnya.
Tanggapan ini muncul sebagai respons atas pernyataan Waketum PKB Jazilul Fawaid yang menyebut warga NU yang tidak memilih pemimpin dari NU sebagai ‘korslet’. Jazilul adalah politikus pendukung Anies-Cak Imin yang menegaskan visi-misi AMIN untuk kemakmuran Indonesia.@cinde





