Indonesiabuzz.com : Surakarta, 20 Januari 2025 – Kraton Surakarta Hadiningrat merupakan kerajaan Mataram Islam yang telah berdiri selama ratusan tahun dan merupakan salah satu sumber budaya Jawa yang hingga saat ini masih eksis dengan budaya dan tradisi Jawa-nya. Terletak di kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, saat ini Kraton Surakarta berada dibawah kepemimpinan sang raja SSISKS Pakoe Boewono XIII.
Pada Sabtu (25/1/2025) nanti, Kraton Surakarta akan mengadakan perhelatan besar HajadDalem Tingalan Dalem Jumenengan (Peringatan Kenaikan Tahta) SSISKS Pakoe Boewono XIII yang ke-21.
Akan diadakannya acara besar tersebut menuntut dilakukannya banyak persiapan dan banyak tradisi yang harus dulaksanakan. Salah satunya adalah prosesi yang dinamakan ‘Jamasan’.
Sebagai contoh, pada tanggal 9 – 11 Januari lalu, Kraton Surakarta telah melaksanakan prosesi Jamasan Gongsa. Terdapat 4 set Gongsa (gamelan) milik Kraton Surakarta yang telah melalui proses Jamasan, keempat gamelan tersebut nantinya akan dibunyikan pada acara HajadDalem Tingalan Dalem Jumenengan SSISKS Pakoe Boewono XIII.
Terkait dengan kegiatan persiapan menuju acara besar tersebut, redaksi mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Pengageng Parentah Kraton Surakarta KGPH Adipati Drs. Dipokusumo M.Si.
Berikut ini adalah sebagian kecil dari wawancara tersebut yang dapat redaksi tulis sebagai informasi bagi pembaca setia Indonesiabuzz.com
Dalam wawancaranya, adik dari Raja Kraton Surakarta tersebut memberikan penjelasan tentang Jamasan, yang merupakan sebuah prosesi pembersihan, atau pada tingkat lanjut adalah sebuah proses pensucian.
Dijelaskan bahwa proses Jamasan selalu melibatkan zat cair, yang bisa berupa air ataupun minyak. Jamasan yang berfokus pada benda, seperti halnya yang biasa dilakukan di Kraton Surakarta Hadiningrat, biasa dilakukan pada benda yang memiliki predikat sebagai benda pusaka.
Pria yang akrab disapa dengan panggilan ‘Gusti Dipo’ ini menjelaskan, tradisi Jamasan telah dilakukan selama ratusan tahun oleh Kraton Surakarta. Sejak berdirinya kerajaan ini, Jamasan telah menjadi sebuah tradisi yang tak akan pernah berhenti dilakukan.

Adapun tentang gamelan yang ada di Kraton Surakarta, selalu mengalami proses Jamasan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Contohnya seperti Jamasan Gongsa yang belum lama ini telah dilaksanakan di Kraton Surakarta.
Seperti Jamasan Gongsa Kanjeng Kyai Kaduk Manis dan Kanjeng Kyai Manisrenggo yang terletak di sisi Selatan dari Pendhapi Ageng Sasana Sewaka, Kraton Surakarta Hadiningrat. Dilakukannya Jamasan kepada dua set gamelan tersebut, waktunya disesuaikan dengan pelaksanaan acara besar HajadDalem Tingalan Dalem Jumenengan, dimana gamelan tersebut nantinya akan digunakan untuk mengiringi Tarian Bedhaya Ketawang yang ditampilkan langsung dihadapan Raja Kraton Surakarta Hadiningrat SSISKS Pakoe Boewono XIII.
Penjamasan selalu melibatkan peran para Abdi Dalem Reksa Pusaka. Mereka inilah yang bertugas untuk menjaga dan memelihara kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pusaka.
Dalam prosesi Jamasan di Kraton Surakarta sendiri, ada tingkatan yang harus dipatuhi. Tingkatan teratas adalah jamasan yang hanya dilakukan langsung oleh Sinuhun (Raja). Dalam melakukan hal tersebut, Sinuhun dibantu atau ‘diladosi’ (dilayani), contohnya oleh Abdi Dalem Reksa Pusaka, Sentono Dalem, Pengageng Keputren, atau juga oleh para putro dalem (putra Sinuhun). Namun hanya para putro dalem, Abdi Dalem maupun Sentono Dalem yang telah di sumpah yang boleh turut melayani Sinuhun dalam proses Jamasan tersebut. (Puthut-Red)
- Ditulis dari keterangan yang disampaikan oleh Pengageng Parentah Kraton Surakarta Hadiningrat KGPH Adipati Drs. Dipokusumo M.Si.







