IndonesiaBuzz: Humaniora – Nama Sultan Agung Hanyakrakusuma kerap menjadi ikon kejayaan Mataram Islam di abad ke-17. Namun, di balik sosok raja besar itu, ada tokoh penting yang jarang terangkat dalam catatan sejarah: Tumenggung Singaranu.
Setelah wafatnya Patih Mandaraka, jabatan strategis itu jatuh ke tangan Singaranu. Ia didaulat menjadi Patih Kedua, mendampingi Sultan dalam berbagai urusan kerajaan. Bagi Sultan Agung, Singaranu bukan sekadar pejabat tinggi, melainkan tangan kanan yang selalu hadir dalam diplomasi, siasat perang, hingga kebijakan penting kerajaan.
Singaranu dikenal sebagai pejabat serba bisa. Ia tangguh di medan laga, cakap dalam menyusun strategi, sekaligus lihai bernegosiasi dengan pihak luar. Ketika Mataram melancarkan ekspedisi besar ke Batavia pada 1629, Singaranu tercatat sebagai salah satu penyusun strategi militer. Perannya juga terlihat dalam pemindahan pusat pemerintahan dari Kotagede ke Kerto, langkah monumental yang menandai kebangkitan Mataram Baru.
Lebih dari seorang panglima, Singaranu berfungsi sebagai penasihat pribadi Sultan Agung. Beberapa sumber bahkan menyebut ia memiliki garis keturunan dari Majapahit, yang memperkuat wibawa serta legitimasinya di mata rakyat.
Meski tak setenar Sultan Agung, Tumenggung Singaranu adalah saksi sekaligus pelaku utama dalam upaya menjadikan Mataram sebagai kekuatan besar di Nusantara. Ia adalah figur yang menegaskan bahwa kejayaan seorang raja kerap lahir dari kesetiaan dan kecerdasan orang-orang di sekitarnya.







