IndonesiaBuzz: Semarang, 10 Juni 2025 – Proyek pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak Paket 1A terus menunjukkan kemajuan berarti. Dikerjakan oleh Kerja Sama Operasi (KSO) antara PT Hutama Karya (Persero) dan Beijing Urban Construction Group (BUCG), progres konstruksi hingga saat ini telah mencapai 64,2 persen.
Dalam keterangan pada awak media Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menjelaskan bahwa salah satu kunci efisiensi proyek ini adalah penerapan teknologi Sosrobahu, sebuah inovasi konstruksi khas Indonesia yang dirancang untuk meminimalisasi gangguan lalu lintas di kawasan padat kendaraan.
“Penggunaan teknologi Sosrobahu pada Tol Semarang–Demak Paket 1A bertujuan meminimalisasi gangguan lalu lintas (lalin) di jalan arteri yang memiliki volume kendaraan sangat tinggi,” ujar Adjib dalam rilis resmi, Selasa (10/6/2025).
Teknologi ini memungkinkan pembangunan pier head atau balok melintang dilakukan sejajar dengan sumbu jalan, kemudian diputar 90 derajat ke posisi akhir menggunakan sistem hidrolik. Dengan demikian, pengerjaan tetap dapat berlangsung tanpa harus menutup jalur di bawahnya, menjaga kelancaran lalu lintas serta aktivitas masyarakat di sekitar proyek.
Menurut Adjib, metode konstruksi konvensional berpotensi menimbulkan kemacetan, menghambat akses bisnis, dan memicu keluhan publik, khususnya di area dengan keterbatasan ruang kerja. Sosrobahu hadir sebagai solusi efisien, menawarkan keunggulan dari sisi kecepatan pembangunan, efektivitas biaya pengaturan lalu lintas, serta fleksibilitas tinggi untuk wilayah urban.
Ditemukan pertama kali oleh insinyur Indonesia sekaligus mantan Direktur Utama PT Hutama Karya, Tjokorda Raka Sukawati, teknologi Sosrobahu tercatat sebagai inovasi orisinal berbasis prinsip fisika mekanika. Diperkenalkan pada 1988 untuk pembangunan Tol Wiyoto Wiyono (Cawang–Tanjung Priok), teknologi ini sempat lama tidak digunakan sebelum kembali diadopsi dalam proyek-proyek strategis nasional, termasuk Tol Layang Jakarta–Cikampek dan kini Tol Semarang–Demak.
Penerapan kembali teknologi warisan bangsa ini membuktikan bahwa solusi lokal tetap relevan dalam menjawab tantangan pembangunan infrastruktur modern, terutama di lingkungan padat yang menuntut efisiensi dan kehati-hatian tinggi







