IndonesiaBuzz: Pacitan, 20 Desember 2025 – Masyarakat Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, kembali menggelar upacara adat Thethek Melek, Sabtu (20/12/2025).
Ritual peninggalan leluhur tersebut menjadi wujud ikhtiar spiritual masyarakat tani dalam menjaga keseimbangan alam sekaligus meneguhkan relasi harmonis antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta.
Kepala Desa Sukoharjo, Solichin, mengatakan Thethek Melek merupakan tradisi nenek moyang yang lahir dari cara pandang ekologis masyarakat Jawa dalam menghadapi hama dan wabah.
Ritual ini tidak dimaknai sebagai upaya memusnahkan makhluk hidup, melainkan menjaga keseimbangan semesta dengan memberi ruang hidup bagi seluruh unsur alam.
“Tradisi ini mengajarkan bahwa hama tidak dihadapi dengan dimusnahkan, tetapi diberi ruang agar tercipta keseimbangan. Semua adalah makhluk Tuhan dan satu kesatuan ekosistem alam yang saling membutuhkan,” ujar Solichin.
Menurutnya, nilai utama Thethek Melek terletak pada kesadaran spiritual dan etika lingkungan. Masyarakat diajak untuk tidak memandang alam sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Harapannya, masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kelestarian alam melalui edukasi pertanian, pelestarian budaya, dan senantiasa bermunajat kepada Yang Maha Kuasa, karena setiap kejadian tidak lepas dari kehendak-Nya,” kata Solichin.
Ia menambahkan, pesan moral yang diwariskan secara turun-temurun melalui ritual ini sangat relevan dengan tantangan lingkungan masa kini.
“Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” ujarnya.
Solichin menjelaskan, atraksi Thethek Melek telah berlangsung sejak lama dalam tradisi masyarakat. Sementara pelaksanaan dalam bentuk upacara adat yang difasilitasi pemerintah desa mulai digelar setelah masa pandemi Covid-19.
“Kegiatannya sudah lama ada, tapi kalau upacara adat yang diadakan oleh desa itu mulai sekitar 2022, pasca Covid,” jelasnya.
Secara historis, Thethek Melek dikenal sebagai ritual tolak pageblug yang lahir dari pengalaman masyarakat Sukoharjo saat menghadapi wabah berkepanjangan yang menyebabkan gagal panen dan tekanan sosial ekonomi.
Ritual dilakukan dengan berkeliling desa membawa tumpeng dan sesaji, diiringi bunyi alat-alat pertanian sebagai simbol pengusiran energi negatif.
Prosesi ditutup dengan doa bersama di area persawahan saat senja sebagai permohonan keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada pelaksanaannya tahun ini, Thethek Melek dikemas dalam Upacara Suwukan Pari dan festival budaya yang melibatkan masyarakat tani, pelaku seni, serta pelaku UMKM. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari pertunjukan seni lokal, Jagong Tani, melukis 1.000 bongkok, hingga Pasar UMKM.
Kepala desa berharap kegiatan ini dapat berkembang menjadi agenda rutin dan destinasi wisata baru yang membawa manfaat edukatif, kultural, serta keberkahan bagi masyarakat Desa Sukoharjo dan Kabupaten Pacitan. (@Arn/Tim)







