IndonesiaBuzz: Ngawi, 31 Agustus 2026 – Mimpi Persinga Ngawi U-17 untuk melangkah lebih jauh di Piala Soeratin U-17 Jawa Timur 2026 harus berakhir di hadapan publik sendiri.
Bertanding di Stadion Ketonggo Ngawi, Minggu (30/8/2026), Laskar Ketonggo Muda takluk tipis 0-1 dari Akor FC Jombang. Kekalahan tersebut sekaligus menghentikan langkah Persinga U-17 di babak 32 besar.
Hasil akhir memang tidak berpihak kepada tuan rumah. Namun, Persinga U-17 sejatinya tampil cukup menjanjikan sepanjang pertandingan. Anak asuh Nanang Purwanto mampu membangun sejumlah peluang dan memberikan perlawanan terhadap Akor FC.
Sayangnya, penyelesaian akhir menjadi persoalan. Dua peluang emas Persinga bahkan harus berakhir setelah bola membentur mistar gawang.
Peluang-peluang tersebut menjadi momen yang seolah menggambarkan bagaimana tipisnya jarak antara kemenangan dan kekalahan dalam sepak bola. Ketika kesempatan mencetak gol gagal dikonversi, Persinga justru harus menerima kenyataan tertinggal satu gol hingga pertandingan berakhir.
Peluit panjang pun memastikan Akor FC Jombang keluar sebagai pemenang dengan skor 1-0. Persinga U-17 harus mengakhiri perjalanan di Piala Soeratin U-17 Jawa Timur 2026 pada fase 32 besar.
Meski kecewa dengan hasil pertandingan, Manajer Persinga U-17, Wildan Ardita, tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pemain.
Menurut Wildan, para pemain telah menjalankan instruksi pelatih secara maksimal. Mereka dinilai mampu menerapkan pola permainan sekaligus menjalankan tugas penjagaan terhadap pemain lawan.
“Untuk anak-anak, sore hari ini sebenarnya sudah main maksimal. Jadi sudah semaksimal mungkin, bermain rapi, sudah bermain marking,” ujar Wildan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (30/8/26).
Wildan mengakui faktor keberuntungan turut memengaruhi hasil pertandingan. Dua peluang Persinga yang hanya membentur mistar menjadi salah satu bukti bahwa timnya sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengubah jalannya pertandingan.
“Tapi kembali lagi kepada keberuntungan. Dua kali anak-anak Persinga bentur mistar. Sudah menjalankan pola dan strategi pelatih dengan sangat baik. Itulah dalam permainan, ada menang ada kalah,” katanya.
Bagi manajemen Persinga U-17, kegagalan di Piala Soeratin bukan akhir dari proses pembinaan pemain muda Ngawi. Sebaliknya, pengalaman bertanding di kompetisi tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi para pemain untuk meningkatkan kemampuan.
Wildan berharap para pemain yang mayoritas merupakan putra daerah Ngawi itu tetap menjaga kebersamaan dan terus berkembang. Dalam jangka panjang, mereka diharapkan dapat menjadi bagian penting dari masa depan sepak bola Kabupaten Ngawi.
“Semoga ke depan Persinga Akademi lebih baik lagi dalam menjalani turnamen atau kompetisi yang akan datang. Harapan kami, anak-anak Ngawi utamanya bisa memperkuat atau bisa kumpul kembali untuk membawa nama besar Kabupaten Ngawi,” tutur Wildan.
Setelah tersingkir, manajemen Persinga U-17 memastikan evaluasi akan dilakukan. Catatan selama mengikuti kompetisi akan menjadi bahan pembenahan, baik terhadap pemain maupun jajaran pelatih.
Evaluasi tersebut penting untuk memastikan proses pembinaan tidak berhenti pada hasil pertandingan. Setiap pengalaman, termasuk kegagalan, diharapkan dapat menjadi bagian dari proses membentuk pemain muda yang lebih matang secara teknis maupun mental.
Bagi Laskar Ketonggo Muda, Piala Soeratin U-17 Jawa Timur 2026 memang berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Namun, kekalahan 0-1 dari Akor FC Jombang menyisakan pelajaran berharga.
Dua bola yang membentur mistar mungkin menjadi bagian paling pahit dari sore itu. Tetapi dari sana pula para pemain muda Persinga memiliki cerita tentang perjuangan, kesempatan yang belum berhasil dimanfaatkan, dan alasan untuk kembali bekerja lebih keras.
Sebab, perjalanan pemain muda tidak semata ditentukan oleh seberapa jauh mereka melangkah dalam satu turnamen. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka menjadikan pengalaman tersebut sebagai pijakan untuk kembali mengejar mimpi—dan suatu hari membawa nama besar sepak bola Ngawi ke level yang lebih tinggi. (Esaputra /Koresponden Ngawi).







