IndonesiaBuzz: Tahukah Kamu – Pearl Witherington Cornioley menjadi salah satu agen perempuan paling berpengaruh dalam Perang Dunia II. Bergabung dengan Special Operations Executive (SOE) Inggris pada 1943, Pearl sempat batal diterjunkan ke Prancis karena jaringannya terbongkar Gestapo. Namun, lima hari kemudian ia kembali mendarat di Prancis dengan misi rahasia.
Menggunakan nama samaran Marie Verges, Pearl awalnya berperan sebagai kurir dalam jaringan SOE bernama “Wrestler” yang dipimpin Maurice Southgate. Setelah Southgate ditangkap Gestapo pada Mei 1944, Pearl mengambil alih kepemimpinan. Bersama tunangannya, Henri Cornioley, ia menyusun ulang struktur jaringan menjadi kelompok-kelompok kecil perlawanan.
Pearl, yang kemudian dikenal dengan nama Pauline, merekrut hingga 1.500 orang mayoritas petani lokal. Kelompok ini melakukan aksi sabotase seperti memutus kabel telepon, menumbangkan pepohonan, hingga menyerang konvoi Jerman menjelang D-Day. Mereka mendapat suplai senjata modern dari Sekutu sehingga mampu meningkatkan serangan terhadap pasukan Nazi.
Pertempuran besar terjadi lima hari setelah D-Day ketika dua batalion Jerman menyerang markas Maquis di Les Souches. Pearl berhasil selamat meski harus menghindari baku tembak dan kebakaran ladang. Meski sempat mundur ke hutan, kelompoknya kembali bangkit dengan kiriman senjata tambahan.
Hingga akhir perang, Maquis pimpinan Pearl menewaskan sedikitnya seribu tentara Jerman, melukai ribuan lainnya, dan berperan besar dalam penyerahan 18 ribu pasukan Jerman di Issoudun. Bahkan, kepalanya sempat dihargai satu juta Franc oleh pihak Nazi.
Meski pemerintah Inggris meremehkan jasanya, Jenderal Dwight D. Eisenhower memuji peran Pearl dan Maquis. Ia menilai keberanian mereka melemahkan posisi belakang Jerman dan membantu keberhasilan operasi Sekutu. Pearl tercatat sebagai satu-satunya agen SOE perempuan yang memimpin langsung pasukan bersenjata melawan Nazi. @jjpamungkas



