IndonesiaBuzz: Isu Hangat – Para milenial dan Gen Z sering dicap sebagai generasi yang apolitis, cuek, atau terlalu fokus pada tren viral di Media Sosial. Tapi, riset membuktikan sebaliknya. Di balik unggahan “meme politik” dan kritik-kritik sarkas di media sosial, ada sebuah fenomena yang jauh lebih mendalam: skeptisisme cerdas. Ini bukan berarti kita acuh tak acuh, melainkan kita terlalu sering kecewa. Kita tumbuh besar dengan janji-janji yang manis, namun kenyataan seringkali terasa pahit.
Generasi kita adalah generasi yang melek teknologi. Kita terbiasa dengan banjir informasi, namun juga sangat akrab dengan bahaya hoaks dan disinformasi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin menganggap media mainstream sebagai satu-satunya kebenaran, kita belajar untuk tidak mudah percaya. Kita memeriksa fakta, membandingkan sumber, dan berdiskusi di grup-grup WhatsApp atau thread di X (Twitter) yang lebih jujur, bahkan jika topiknya adalah soal isu politik yang sensitif.
Lalu, bagaimana skeptisisme ini termanifestasi dalam realitas politik kita?
1. Menggugat Janji “Makan Gratis”: Dari Meja Makan ke Anggaran Negara
Program politik seringkali terdengar menarik, seperti janji “makan siang dan susu gratis”. Namun, alih-alih langsung terbuai, banyak dari kita yang justru bertanya, “Dari mana anggarannya?” dan “Apakah ini solusi paling efektif?”.
Riset menunjukkan, isu anggaran dan efektivitas program semacam itu mendominasi perdebatan di kalangan milenial. Kita tidak hanya melihat manfaat jangka pendek, tapi juga mempertanyakan dampak jangka panjang pada APBN. Bukannya kita tidak peduli pada gizi anak bangsa, tapi kita sudah lelah dengan kebijakan yang terlihat bagus di permukaan namun menyimpan bom waktu di belakang. Kita butuh solusi yang berkelanjutan, bukan sekadar “gimmick” politik yang mahal.
2. Korupsi: Bukan Hanya “Oknum”, Tapi “Pola”
Isu korupsi adalah tema abadi dalam politik Indonesia. Tapi, cara milenial memandangnya berbeda. Kita tidak lagi melihat korupsi sebagai tindakan “oknum” nakal semata, melainkan sebagai sebuah sistem yang mengakar dan terus-menerus memakan uang rakyat. Kita menyaksikan bagaimana drama politik di TV berakhir dengan tawa dan tepuk tangan, sementara di media sosial, kita melihat meme satir yang lebih jujur menggambarkan kekecewaan kita.
TikTok, misalnya, menjadi platform di mana kritik politik disampaikan dengan gaya yang kocak tapi menusuk. Kita tidak lagi menggunakan orasi panjang, tapi cukup dengan musik latar yang viral dan ekspresi wajah yang pas, kita sudah bisa menyampaikan kritik terhadap isu-isu krusial. Ini adalah bentuk perlawanan kita: mengubah kekecewaan menjadi seni yang mudah dicerna, namun tetap punya daya sengat.
3. Partisipasi Politik yang Berubah: Dari Kotak Suara ke Layar Genggam
Jangan salah, kita tidak apatis. Kita hanya berpartisipasi dengan cara yang berbeda. Generasi sebelumnya mungkin menganggap datang ke TPS dan mencoblos adalah akhir dari partisipasi. Bagi kita, itu hanyalah permulaan.
Kita memantau janji-janji politik setelah pemilu, mengkritisi kebijakan yang tidak pro-rakyat, dan menyebarkan informasi tentang hak-hak kita melalui media sosial. Kita juga memobilisasi dukungan untuk kampanye sosial, bukan hanya kampanye politik. Kita tahu bahwa perubahan tidak datang dari satu orang, tapi dari gerakan kolektif yang bisa kita bangun dari ruang digital.
Pada akhirnya, skeptisisme cerdas milenial bukanlah tanda apati, melainkan sebuah bentuk kewaspadaan yang lahir dari pengalaman dan akses informasi tanpa batas. Kita mungkin tidak lagi percaya pada janji manis, tapi kita punya kekuatan untuk menggali, mempertanyakan, dan pada akhirnya, menciptakan perubahan nyata. @jjpamungkas







