IndonesiaBuzz: Kuliner – Mayoritas masyarakat Jawa menganggap perutnya belum kenyang jika belum menyantap nasi, terutama jika disajikan dengan beragam lauk pauk. Salah satu tradisi yang menjadi simbol kebersamaan dan persatuan adalah nasi golong atau yang lebih dikenal sebagai nasi tumpeng, yang bentuk nasinya berupa bola-bola.
Dikutip dari Babad, tradisi nasi golong pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Pakubuwana II pada tahun 1744. Tradisi ini biasanya dilaksanakan saat ritual adang sega tahun dal di Keraton Surakarta dan Yogyakarta, tepat pada perayaan Grebeg Maulud Tahun Dal, yang merupakan tahun kelima dalam siklus penanggalan Jawa.
Cara memasak nasi golong masih mengikuti tradisi kuno yang ditentukan oleh sang raja, menggunakan pusaka yang memiliki makna khusus. Di Keraton Surakarta, nasi dimasak dalam periuk bernama Kiai Dhuha, yang konon merupakan pusaka milik Dewi Nawangwulan. Sedangkan di Keraton Yogyakarta, nasi dimasak menggunakan kendil Nyai Mrica yang kemudian dibentuk menjadi bola-bola kecil oleh Sultan Hamengku Bawono X.
Nasi golong disajikan bersama dengan beragam lauk pauk seperti ayam, telur, srundeng, dan sayuran, yang melambangkan hubungan manusia yang saling terkait dan tidak teratur. Tradisi ini memiliki akar yang dalam dalam budaya Jawa, yang tercermin dalam kitab sastra kuno seperti Lubdaka, yang menunjukkan bahwa nasi golong bukanlah menu sehari-hari, tetapi terkait erat dengan ritual-ritual masyarakat Jawa seperti ruwatan, kenduri, sedekah, dan lainnya.
Selain memiliki nilai simbolis yang kuat, nasi golong juga dianggap enak dan menyehatkan oleh masyarakat Jawa, sehingga tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai ritual dan tradisi budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.







