IndonesiaBuzz: Jakarta, 20 Januari 2026 – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyuarakan kekhawatiran mendalam atas dinamika geopolitik global yang dinilainya semakin mengarah pada kemungkinan pecahnya Perang Dunia III. Dalam pernyataan terbuka yang disampaikan melalui akun media sosial X pribadinya, SBY menilai situasi dunia saat ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” tulis SBY, Selasa (20/1/26).
Namun demikian, mantan kepala negara yang dua periode memimpin Indonesia itu mengingatkan bahwa ruang dan waktu untuk mencegah bencana global tersebut kian menyempit. Ia menyoroti sejumlah pola historis yang kembali muncul, mulai dari tampilnya pemimpin pemimpin kuat yang cenderung agresif, pembentukan blok dan persekutuan negara yang saling berhadap hadapan, hingga perlombaan penguatan militer yang disertai penyiapan mesin perang dan ekonomi perang secara masif.
“Geopolitik dunia benar benar panas,” tulis SBY, merujuk pada eskalasi konflik dan ketegangan yang meluas di berbagai kawasan.
SBY juga mengungkapkan kegelisahan personal atas potensi penggunaan senjata nuklir jika perang global benar benar pecah. Ia menyebut berbagai kajian internasional memperkirakan korban jiwa dapat mencapai lebih dari lima miliar manusia, bahkan berujung pada runtuhnya peradaban dan lenyapnya harapan umat manusia.
“Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi,” ujarnya.
Meski demikian, SBY menegaskan bahwa doa semata tidaklah cukup. Menurutnya, keselamatan dunia hanya dapat terwujud jika umat manusia dan bangsa bangsa di dunia secara kolektif bekerja dan mengambil langkah nyata untuk mencegah kehancuran global.
“Tidak cukup dengan doa satu dua orang. Bahkan jika 8,3 miliar manusia berdoa, Tuhan tidak serta merta mengabulkan bila manusia dan bangsa bangsa tidak berupaya menyelamatkan dunianya,” tulisnya.
Dalam konteks itu, SBY mendorong peran aktif komunitas internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia mengusulkan agar PBB segera mengambil inisiatif menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly) yang mempertemukan para pemimpin dunia untuk merumuskan langkah langkah konkret pencegahan krisis global, termasuk ancaman perang dunia.
“Saran saya, PBB mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk dalam persidangan darurat dengan agenda langkah nyata mencegah krisis dunia dalam skala besar,” kata SBY.
Meski mengakui PBB saat ini kerap dipersepsikan lemah dan tidak berdaya menghadapi konflik global, SBY berharap lembaga internasional tersebut tidak tercatat dalam sejarah sebagai pihak yang membiarkan kehancuran terjadi. Ia mengingatkan, kehancuran dunia kerap bukan disebabkan oleh kejahatan segelintir pihak, melainkan karena sikap diam orang orang baik.
“Mungkin seruan itu seperti berseru di padang pasir. Namun bisa juga menjadi awal kesadaran, kehendak, dan langkah nyata bangsa bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini…ingat If there is a will, there is a way,” pungkasnya. (red.)







