IndonesiaBuzz: Sastra – Sering kali bertemu orang-orang yang jika membuka mulut, seakan-akan suara mereka langsung tersambung ke call center Ilahi. Kata-kata yang keluar bukan lagi bahasa bumi, melainkan kosakata berat kesadaran kosmik, vibrasi ilahi, frekuensi semesta. Seolah ia punya hotline pribadi dengan Tuhan, lengkap dengan paket premium tanpa gangguan sinyal.
Kita mendengarkan dengan penuh takzim, awalnya. Kita kira itu pencerahan, kita kira itu kebangkitan batin. Tapi pelan-pelan kita sadar: cahaya yang mereka nyalakan ternyata bukan obor penerang, melainkan lampu sorot eksistensial dipasang bukan untuk menunjukkan jalan, tapi untuk menyilaukan mata orang lain.
Mereka mengaku sufi sosial, wajahnya teduh, kata-katanya sejuk, tapi langkahnya riuh mencari validasi. Mereka membungkus egonya dengan jubah suci, lalu menari di panggung media dengan jargon yang kita hapal betul cinta tanpa syarat, keberlimpahan semesta, keselarasan batin. Semua indah, semua ilahi, semua… instagramable.
Ironinya, jika benar spiritualitas adalah jalan menuju pembebasan, kenapa banyak yang justru terjebak dalam jeruji superioritas diri? Merasa sudah satu langkah di depan, merasa lebih tercerahkan dibanding tetangganya, merasa berhak menilai siapa yang masih gelap dan siapa yang sudah terang.
Maka kita bertanya-tanya, apa makna kaffah bagi mereka? Apakah ia sebatas tampilan luar yang penuh kutipan suci? Ataukah ia hanya topeng mulia untuk menutupi egonya yang sedang naik kelas, berpose sebagai malaikat yang masih mencintai duniawi?
Pada akhirnya, “sufi sosial” hanyalah cermin bukan tentang Tuhan yang mereka sebut, melainkan tentang diri yang ingin mereka tonjolkan. Cahaya yang mereka pancarkan bukanlah pencerahan, melainkan reflektor yang diarahkan ke wajah sendiri, agar selalu terlihat bersinar di depan orang banyak.(red)







