Ketegangan politik di Indonesia kembali memanas. Bentrokan antar-masyarakat pecah di beberapa daerah, menimbulkan korban jiwa yang tak terhitung. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, suasana kontras justru terlihat di meja pemerintahan: pesta meriah, gelas kristal terangkat, seakan dunia di luar istana hanyalah cerita asing.
Suara sirene ambulans masih terdengar di sejumlah kota. Bau asap terbakar, darah di jalanan, dan jeritan keluarga kehilangan orang tercinta menjadi pemandangan yang tidak lagi mengejutkan. Masyarakat bertarung sesama masyarakat, terbakar amarah yang dipicu oleh kebijakan yang tak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

Di sisi lain, pada malam yang sama, ruang rapat pemerintahan dipenuhi tawa. Musik jazz mengalun pelan, meja panjang tertata rapi dengan hidangan mewah, dan cahaya lampu kristal berkilau seakan menutupi bau anyir darah di luar sana. Mereka mengangkat gelas, bersulang, dan membicarakan angka-angka yang hanya hidup di atas kertas.
“Situasi terkendali,” ujar seorang pejabat tinggi, sambil menyeka mulutnya yang penuh daging impor. Kata-kata itu terdengar getir, mengingat di luar gedung, tubuh-tubuh muda bergelimpangan di aspal.
Sungguh kontras. Di jalanan, orang saling tikam demi sepotong roti, demi sebaris harapan yang lama hilang. Di ruang kekuasaan, orang saling berebut posisi, berebut tepuk tangan, seakan rakyat hanyalah angka statistik dalam laporan mingguan.
Seorang ibu menangis di pinggir jalan, memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa. Sementara itu, kamera televisi hanya menyorot pejabat yang sedang tertawa, membanggakan keberhasilan yang tak pernah benar-benar dirasakan rakyat.
“Negeri ini bukan rusak karena rakyatnya yang gaduh, tapi karena pemimpinnya menutup mata,” kata seorang mahasiswa di tengah kerumunan, sebelum gas air mata membuatnya terbatuk-batuk. Kalimat itu tenggelam bersama suara tembakan, namun tetap bergetar di hati mereka yang mendengarnya.
Dan malam itu menjadi catatan getir sejarah: ketika rakyat bertarung dengan darah, pemerintah justru berdansa dengan pesta.







