IndonesiaBuzz: Tulungagung, 4 Agustus 2025 – Cuaca yang tak menentu dan hasil tangkapan yang fluktuatif rupanya tak menyurutkan semangat para nelayan di Pantai Bayem, Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung. Aktivitas menjaring ikan tetap berlangsung seperti biasa, menjadi denyut kehidupan ekonomi di kawasan pesisir ini.
Sejak pagi hingga sore, perahu-perahu nelayan terlihat berlayar menyusuri perairan dangkal. Salah satunya milik Rigan (60), nelayan sekaligus pemilik perahu yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari laut.
“Yang penting bisa jalan terus. Bisa bayar solar, makan, sama bagi hasil buat awak kapal. Alhamdulillah, masih cukup,” ujar Rigan kepada IndonesiaBuzz, Senin (4/8/25) siang di dermaga Pantai Bayem.
Meski hasil tangkapan tak selalu melimpah, seperti ikan layur dan dorang, jumlah yang didapat masih mencukupi untuk menutup ongkos melaut dan menggaji para awak kapal.
Hal menarik lainnya, sebagian besar kuli nelayan di Pantai Bayem adalah perempuan, mayoritas berasal dari Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek. Mereka bekerja dari pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore dengan bayaran sekitar Rp60 ribu per hari. Selain upah, para ibu tangguh ini juga kerap mendapatkan sebagian kecil hasil tangkapan untuk dibawa pulang ke rumah.
Tak hanya menghadapi terik matahari, mereka juga harus berjibaku dengan gelombang dan beban kerja fisik di lautan. Namun semangat tak pernah padam. Rutinitas ini hanya berhenti sejenak setiap tanggal 15 hingga 20 dalam kalender Jawa, saat bulan purnama yang biasa dijadikan waktu istirahat oleh para nelayan.

Hasil tangkapan nelayan Ikan Layur ,dorang dan Tuna
Hasil laut kemudian dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasar Bandung, Tulungagung, menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga nelayan di kawasan ini.
Stabilnya hasil tangkapan, walau dalam jumlah terbatas, menjadi penanda bahwa roda ekonomi pesisir tetap berputar. Lebih dari itu, tekad dan kerja keras para nelayan baik laki-laki maupun perempuan menjadi simbol ketangguhan sektor perikanan tradisional di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan urbanisasi, dan modernisasi yang terus berjalan.(Ika Firgiyanti/Koresponden Tulungagung)







