IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 14 Agustus 2025 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menggelar Program Medhayoh (Medhar Perkoro Supoyo Jadi Nayoh) edisi ke-5 di Desa Bareng, Kecamatan Sekar, Rabu (13/08/2025). Kegiatan ini menitik beratkan pada isu kesehatan dan pengembangan wilayah melalui dialog interaktif antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Sebelum acara inti, rangkaian kegiatan pendukung digelar, antara lain peninjauan Program Gayatri di Desa Klino, penanaman pohon bersama, diskusi dengan mahasiswa KKN Universitas Bojonegoro terkait pengembangan agrowisata Desa Klino, serta kunjungan ke perkebunan bawang merah di Desa Bareng.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menyampaikan rencana pengembangan wilayah Kecamatan Sekar, khususnya sektor pariwisata. “Pemkab sedang mengkaji pembentukan kota kecamatan di Sekar mengingat potensi wisata dan pertanian yang besar. Harapannya, Sekar dapat berkembang menjadi kota wisata atau kawasan perkebunan yang menarik banyak pengunjung,” ujar Bupati Wahono. Ia menambahkan, Sekar memiliki udara sejuk, lahan subur, dan akses jalan tol yang memudahkan pengembangan wilayah.
Dalam bidang kesehatan, Pemkab Bojonegoro menekankan penanganan stunting melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pencegahan sejak dini, dimulai dari remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah. Program ini berlanjut pada ibu hamil yang dianjurkan rutin memeriksa kehamilan minimal enam kali.
Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Ani Pujiningrum, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) berkualitas menjadi prioritas. “Selain stunting, program Tuntas TBC juga penting karena penularannya mudah dan dapat mengganggu produktivitas. Deteksi dini dan terapi tepat diharapkan mampu mencegah penyebaran TBC,” jelasnya.
Selain itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menargetkan 28.000 warga Kecamatan Sekar, namun baru terealisasi 16,91% atau sekitar 4.700 orang. Masyarakat diimbau memanfaatkan layanan ini dengan datang ke puskesmas dan membawa KTP.
Dialog interaktif menjadi inti Medhayoh, memberi kesempatan masyarakat menyampaikan aspirasi langsung kepada pemerintah. Warga mengangkat berbagai isu, mulai dari reboisasi sebagai upaya pencegahan longsor, kebutuhan pupuk subsidi, pengelolaan dan pengembangan wisata, hingga permasalahan irigasi pertanian dan rendahnya harga jual panen singkong. (M.Tohir Bojonegoro)







