IndonesiaBuzz: Surakarta, 23 Desember 2024 — Polresta Surakarta mulai melakukan sterilisasi gereja-gereja besar di Kota Solo menjelang perayaan Natal, Senin (23/12/2024). Langkah ini merupakan upaya untuk menjamin keamanan umat Kristiani yang akan menjalankan ibadah Natal pada 24 dan 25 Desember mendatang.
Sterilisasi gereja melibatkan Penjinak Bom (Jibom) Gegana Brimob Polda Jateng dan anjing pelacak K-9. Proses ini dibagi menjadi dua tim untuk menyisir sejumlah gereja.
Tim pertama bertugas menyisir Gereja Katolik Santo Paulus Kerten, Santo Petrus Gendengan, GKJ Joyodiningratan, GKJ Coyudan, San Inigo, dan GKI Sangkrah. Sementara itu, tim kedua menyisir GKJ Manahan, Grha Anugrah Gupdi, GKJ Margoyudan, GKI Maria Regina Purbowardayan, GBIS Kepunton, GKI Santo Antonius Purbayan, dan Gereja Penabur.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pihak gereja. Pendeta Yulianto, Koordinator Pengamanan Gereja GBIS Kepunton Solo, menyampaikan bahwa pihak internal gereja juga telah menyiapkan 14 personel keamanan.
“Petugas internal, dibantu Polisi, TNI, dan unsur lainnya, sudah mulai berjaga sejak kemarin dan akan berlangsung hingga tanggal 31 Desember,” ujar Pendeta Yulianto.
Pihak gereja juga mengimbau para jemaat agar tidak membawa barang berlebihan saat menghadiri ibadah, guna mempermudah pengamanan
“Kami imbau tidak membawa tas besar atau ransel, cukup tas kecil untuk Alkitab saja. Total jemaat kami sekitar 4.000 orang, tetapi ibadah Natal kami bagi menjadi tiga sesi: pukul 06.00, 10.00, dan 18.00 pada hari H. Sementara malam Natal tidak ada aktivitas,” tambahnya.
Sementara itu, Kapolresta Surakarta Kombes Pol Iwan Saktiadi memastikan bahwa anggota Polri siap mengamankan seluruh rangkaian perayaan Natal di Kota Solo.
“Tidak hanya gereja besar dengan jumlah jemaat ribuan, tetapi setiap gereja di kota Bengawan akan mendapatkan pengamanan,” ungkap Kapolres.
Ia menambahkan bahwa untuk gereja prioritas, sebanyak 15 personel gabungan TNI-Polri serta stakeholder lainnya akan berjaga. Jumlah ini dapat bertambah hingga 30–50 orang dengan bantuan ormas dan pemuda gereja.
“Kami meminta setiap gereja mengerahkan pengamanan internal, karena mereka yang paling memahami dan mengenali jemaat. Kerja sama antara pengamanan internal dan aparat sangat penting,” tutupnya.







