Oleh:
Jenar Seta Kumala
Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Widya Mandala Madiun
Pemilu, dalam konteks dinamis dan perubahan yang terjadi di Indonesia, tidak hanya sekadar sebuah proses demokratisasi yang bersifat formal. Pemilu adalah tonggak utama dalam mengukir nasib bangsa, dan pemilihan pemimpin adalah refleksi dari nilai-nilai yang dipercayai oleh masyarakat. Dalam hal ini, konsep gotong royong yang merupakan salah satu nilai Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk wajah demokrasi kita. Namun, penting untuk mengkritisi sejauh mana pemilu sekarang ini benar-benar mencerminkan nilai gotong royong dan apakah masyarakat telah memahami dan menerapkannya dengan benar.
Pancasila dan Gotong Royong sebagai Fondasi Demokrasi
Konsep gotong royong, sebagai bagian integral dari Pancasila, menunjukkan betapa pentingnya kerja sama dan kebersamaan dalam membangun negara. Gotong royong adalah sistem kekeluargaan, sebuah prinsip yang melibatkan seluruh masyarakat dalam upaya bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Pemilu, dalam konteks ini, haruslah menjadi wahana nyata untuk mengaktualisasikan nilai-nilai gotong royong.
Namun, pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan adalah sejauh mana pemilu kita saat ini mengakar pada nilai gotong royong?
Partisipasi Aktif dan Pemahaman Bersama
Pemilu yang dinamis memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak, dan untuk mencapai partisipasi yang lebih tinggi, pemahaman bersama mengenai tujuan dan cita-cita bersama sangatlah penting. Dalam pemilu, pemahaman ini tidak hanya perlu dimiliki oleh para pemilih, tetapi juga oleh para penyelenggara pemilu dan calon pemimpin.
Namun, pada kenyataannya, kita sering melihat kurangnya pemahaman bersama mengenai visi dan misi calon pemimpin. Calon seringkali lebih fokus pada kampanye mereka sendiri tanpa menggali nilai-nilai gotong royong. Ini menciptakan pemilu yang lebih mirip dengan ajang popularitas daripada proses demokratis yang seharusnya.
Pentingnya Mendahulukan Kepentingan Bersama
Gotong royong juga mengajarkan kita untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Namun, dalam politik, terlalu sering kita melihat calon pemimpin yang lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bangsa dan negara. Sejarah Pancasila mengajarkan kita bahwa para tokoh bangsa kita mampu meninggalkan kepentingan pribadi mereka demi kepentingan yang lebih besar. Namun, apakah pemimpin-pemimpin saat ini memiliki tekad yang sama?
Pemilu adalah waktu yang tepat untuk mengukur sejauh mana para pemimpin kita memiliki semangat gotong royong yang kuat. Pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang hanya berbicara tentang gotong royong dalam kampanye, tetapi mereka yang benar-benar menghayati dan mengamalkannya dalam tindakan mereka sehari-hari.
Peran Bawaslu dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat
Undang-undang Pemilu tahun 2017 memberikan peran penting kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu. Namun, apakah Bawaslu telah berhasil mencapai tujuan ini dengan efektif? Apakah masyarakat merasa bahwa mereka benar-benar memiliki peran dalam pemilu?
Saat ini, kita masih sering melihat ketidakpuasan dan ketidakpercayaan terhadap proses pemilu. Ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu. Bawaslu harus lebih aktif dalam memberikan edukasi politik kepada masyarakat dan membangun gerakan bersama kesadaran akan pentingnya pemilu yang berlangsung secara gotong royong.
Peran Masyarakat dalam Pemilu 2024
Tidak hanya para penyelenggara pemilu, pekerja, atau pengawas pemilu yang memiliki tanggung jawab dalam menjalankan pemilu dengan semangat gotong royong. Seluruh komponen masyarakat juga harus berperan aktif dalam proses ini. Memilih pemimpin yang berwibawa adalah hak dan kewajiban kita sebagai warga negara.
Pemilu 2024 mendatang adalah kesempatan bagi kita semua untuk mempraktikkan nilai gotong royong dalam tatanan politik kita. Kami, sebagai aktivis pergerakan mahasiswa, mendorong masyarakat untuk benar-benar memahami bahwa pemilu bukanlah sekadar pilihan antara calon A atau B, tetapi juga sebuah peluang untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu menjalankan kepemimpinan dengan semangat gotong royong.
Kesimpulan
Pemilu yang dinamis seharusnya berakar pada konsep gotong royong, yang merupakan salah satu nilai Pancasila yang kita junjung tinggi. Namun, dalam kenyataannya, pemilu kita masih jauh dari mencerminkan nilai-nilai ini dengan baik. Partisipasi masyarakat masih perlu ditingkatkan, pemimpin harus benar-benar menghayati semangat gotong royong, dan lembaga seperti Bawaslu harus lebih aktif dalam membangun kesadaran akan pentingnya pemilu yang berlangsung secara adil dan bersama-sama.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya gotong royong dalam pemilu. Hanya dengan menjadikan nilai-nilai gotong royong sebagai fondasi dalam demokrasi kita, kita dapat memastikan bahwa pemilu menjadi wahana yang sesungguhnya untuk mencapai kebaikan bersama bagi bangsa dan negara. @indonesiabuzz







