IndonesiaBuzz: Ngawi, 28 September 2025 – Tradisi perang nasi di Desa Plang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, kembali digelar ratusan warga, Minggu (28/9/25).
Tradisi turun-temurun ini tetap lestari meski zaman modern terus berjalan.
Perang nasi yang rutin digelar setiap tahun ini awalnya merupakan bagian dari upacara bersih desa.
Filosofinya adalah rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus saling berbagi makanan antarwarga.
“Ini tujuannya adalah wujud rasa syukur karena panen yang melimpah. Dan itu dilakukan setiap setahun sekali. Ini memang tradisi turun-temurun dari dulu. Filosofinya, dulu banyak orang kekurangan makan, jadi orang kaya mengumpulkan makanan di sini untuk dibagikan,” ujar Hariyana, Kepala Desa Plang Lor.
Menurut Hariyana, pada awalnya nasi dan lauk dibawa ke lokasi punden untuk dibagikan kepada warga kurang mampu. Namun, seiring waktu, tradisi ini berubah menjadi lempar-lemparan atau “perang nasi”.
“Dulu sebenarnya nasi ini dibagikan ke orang miskin. Tapi karena zaman dulu disebut larang pangan, nasi ini jadi rebutan warga. Bukan berarti mereka tidak bersedekah, tapi tetap melaksanakan tradisi. Satu KK biasanya membawa dua sampai lima bungkus nasi dan lauk,” jelasnya.
Meski keributan sering terjadi dan beberapa warga terjatuh atau terluka, tidak ada rasa dendam antarwarga. Saat acara selesai, semua yang terlibat saling bersalaman dan berangkulan.
“Walaupun sampai terjatuh dan luka, di sini tidak ada rasa dendam. Setelah selesai, mereka bercanda, bersalaman, dan saling memaafkan,” tambah Hariyana.
Tradisi perang nasi ini juga menarik banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar daerah. Mereka datang untuk melihat secara langsung keseruan lempar-lemparan nasi.
“Di sini memang sudah tradisinya. Asik dan unik, terutama bagi yang datang langsung. Bisa jadi hiburan juga. Ini tradisi bersih desa yang turun-temurun,” kata Devid Evra, pengunjung.
Devid yang berasal dari Kabupaten Magetan mengaku baru pertama kali melihat tradisi ini.
“Saya cuma lihat saja, baru kali ini. Memang seru, antusias warga luar biasa,” ujarnya.
Bagi warga Plang Lor, perang nasi bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan dan wujud sedekah atas rezeki hasil bumi selama setahun terakhir. (Esaputra/Ngawi)







