IndonesiaBuzz: Kuliner – Dusun Ngruweng, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, memiliki kuliner turun-temurun yang diwariskan oleh Kyai Haji Ngabdulkahar, yang dikenal juga sebagai Eyang Abdul Qohar. Beliau adalah guru Raja Karaton Kasunan Surakarta Pakubuwana IX sekaligus tokoh penyebar agama dan keturunan Sunan Pandanaran.
Keharuman nama Eyang Abdul Qohar tertulis dalam pupuh asmaradana, kidung sesingir PB IX, yang menggambarkan kebijaksanaan dan kesalehan beliau:
Karasèng tyas lamun eling wêwulange guruningwang Ngabdulkahar wisma Ngruwèng alim talatèn yèn mulang kuwat umure dawa nora sah ngibadahipun suprandene sugih garwa
Kuliner warisan Eyang Abdul Qohar ini bernama Nasi Nuk, yang terdiri dari nasi dengan lauk sederhana seperti telur, tempe, dan sayur yang dibungkus dengan daun. Dahulu, Nasi Nuk dibungkus dengan daun jati. Nama “Nasi Nuk” berasal dari bentuk bungkusan nasi yang plenuk-plenuk, hingga akhirnya disebut Nasi Nuk. Nasi ini memiliki filosofi kebersamaan dan kesederhanaan.
Mas Ngabehi Tino Suharjo Reksoprasetyo, trah dari Kyai Haji Abdul Qohar, menjelaskan bahwa Nasi Nuk merupakan warisan turun-temurun yang hingga kini dilestarikan dan diyakini memiliki berkah.
“Dahulu, Nasi Nuk dibungkus dengan daun jati. Seiring perkembangan zaman, Nasi Nuk kini dibungkus dengan daun pisang dan kertas bungkus untuk memudahkan,” ungkapnya.
Tino Suharjo menambahkan bahwa Kyai Abdul Qohar memiliki metode pengajaran yang sangat berbeda, yang membuat para santrinya nyaman dalam belajar ilmu agama.
“Eyang memiliki cara unik dalam mengajar. Beliau membuat para santrinya nyaman. Sebelum belajar, jika muridnya lapar, beliau memberikan makanan dengan lauk sederhana yang dibungkus dengan daun,” ujar Tino Suharjo.
Pada Haul Eyang Abdul Qohar yang diselenggarakan untuk memperingati wafatnya Kyai Abdul Qohar pada tanggal 20 Besar (Dzulhijjah), Rabu (26/6/2024), panitia haul memberikan 1500 Nasi Nuk kepada warga masyarakat yang hadir dalam pengajian.
Haul kali ini sangat disambut antusias oleh warga masyarakat, khususnya desa Ngruweng. Terbukti, setiap rumah di Ngruweng memberikan minimal 20 bungkus nasi yang dikumpulkan hingga mencapai 1500 bungkus untuk dibagikan kepada jamaah pengajian sebelum acara dimulai.
“Antusias warga kali ini sangat luar biasa. Sebanyak 1500 Nasi Nuk terkumpul untuk dibagikan, dan semua itu dilakukan secara sukarela oleh warga,” tutup Tino Suharjo.
Nasi Nuk tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol warisan budaya dan spiritual yang mengingatkan kita akan pentingnya kesederhanaan dan kebersamaan.







