IndonesiaBuzz: Jakarta, 17 Januari 2026 – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menetapkan kebijakan baru terkait pembelian beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Mulai Februari 2026, masyarakat dapat membeli beras SPHP hingga maksimal lima pack atau setara 25 kilogram per orang, meningkat dari ketentuan sebelumnya yang dibatasi dua pack atau 10 kilogram.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan akseptabilitas beras SPHP di tahun 2026. Saat ini, Bapanas tengah melakukan pemutakhiran dan penajaman petunjuk teknis penyaluran beras SPHP agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Semula batas maksimal pembelian berada di dua pack per konsumen atau 10 kilogram. Ke depan direncanakan batas maksimal pembelian beras SPHP tahun 2026 dapat berada di lima pack per konsumen atau 25 kilogram,” ujar Sarwo saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan, sepanjang Januari 2026 kebijakan pembelian masih mengacu pada aturan lama, yakni maksimal dua pack per orang. Hal itu sejalan dengan perpanjangan distribusi beras SPHP hingga 31 Januari 2026 melalui skema Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) yang telah disetujui Kementerian Keuangan.
“Selanjutnya mulai Februari, sudah ada alokasi SPHP beras untuk 2026 sebesar 1,5 juta ton sepanjang tahun. Artinya tidak ada jeda penyaluran beras SPHP untuk masyarakat,” kata Sarwo.
Bapanas bersama Perum Bulog memastikan pasokan beras SPHP tetap terjaga dan tersedia di berbagai lini pasar, baik pasar tradisional maupun ritel modern. Konsistensi penyaluran SPHP dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas, pergerakan rata-rata harga beras medium secara nasional mulai terlihat, meski masih berada di kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET). Ke depan, meningkatnya produksi beras nasional seiring mendekati panen raya diproyeksikan turut menekan volatilitas harga.
Dalam proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang diperbarui per Januari, produksi beras nasional pada Januari diperkirakan mencapai 1,79 juta ton dan meningkat menjadi 2,98 juta ton pada Februari. Puncak panen raya diprediksi terjadi pada Maret dan April, masing-masing berpotensi mencapai hingga 5 juta ton.
“Pada momentum produksi tinggi tersebut, penyaluran beras SPHP akan dilakukan lebih selektif agar tetap efektif sebagai instrumen stabilisasi,” ujar Sarwo.
Ia menambahkan, beras SPHP kini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat dan telah tersedia di pasar modern, pasar tradisional, serta instansi yang menjalankan program SPHP. Dari sisi kualitas, beras SPHP dinilai setara dengan beras medium yang beredar di pasaran, namun ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mencoba beras SPHP. Jika menemukan kualitas yang kurang sesuai, segera laporkan agar bisa dilakukan penggantian,” katanya.
Terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada awal 2026 mencapai 3,2 juta ton. Kondisi tersebut menjadi modal kuat bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga beras nasional.
“Kita harus kompak dari hulu sampai hilir. Produksi di hulu kuat, pengelolaan di tengah berjalan, dan penyerapan di hilir maksimal. Ini kunci menjaga swasembada dan melangkah ke tahap berikutnya,” ujar Amran, Jumat (16/1/26).(red.)







