IndonesiaBuzz: Hiburan – Sebelum gawai menjadi teman bermain utama anak-anak, halaman rumah, gang sempit, dan lapangan sekolah menjadi panggung utama bagi imajinasi, kerja sama, dan kegembiraan. Anak-anak Indonesia tumbuh bersama dolanan tradisional yang sarat makna dan nilai: melompat di petak engklek, menyusun strategi di congklak, berlari dalam gobak sodor, atau meniti egrang sambil menahan tawa dan takut.
Namun kini, suasana itu semakin jarang terlihat. Anak-anak lebih akrab dengan avatar di layar ketimbang wajah teman sepermainannya. Dalam kurun dua dekade terakhir, banyak permainan tradisional Nusantara yang mundur dari keseharian, digantikan dunia digital yang lebih individual, lebih instan, dan minim gerak fisik.
Berikut tujuh permainan tradisional yang pernah berjaya, namun kini perlahan terlupakan di tengah derasnya arus digitalisasi:
1. Engklek – Lompatan Satu Kaki yang Tak Lagi Terjejak

Engklek adalah permainan lompat kotak satu kaki yang hampir selalu dimainkan saat jam istirahat sekolah atau sore di pekarangan rumah. Digambar di tanah menggunakan kapur atau batu, kotak-kotaknya menjadi arena lompatan, tempat anak-anak melatih keseimbangan, akurasi, dan urutan giliran.
Di balik kesederhanaannya, engklek mengajarkan disiplin dan fokus. Namun kini, lahan tempat bermain makin sempit, dan anak-anak lebih akrab dengan endless runner games ketimbang melompat langsung di atas tanah.
Di kota besar, anak yang bisa menggambar pola engklek saja sudah langka, apalagi yang tahu aturan mainnya. Padahal, permainan ini tidak hanya murah—tapi kaya pelajaran dan nostalgia.
2. Congklak – Strategi Tenang di Papan Kayu

Congklak adalah permainan strategi dua orang yang saling berpacu mengumpulkan biji terbanyak ke lumbung mereka. Menggunakan papan berlubang dan biji kerang atau batu kecil, congklak hadir dalam banyak versi di Asia Tenggara. Di Indonesia, ia populer di hampir seluruh wilayah, dari Jawa hingga Sumatra, dengan nama seperti dakon atau congkak.
Permainan ini menumbuhkan kecerdasan spasial, kesabaran, dan daya hitung anak. Namun hari ini, congklak lebih sering dijual sebagai oleh-oleh daripada dimainkan. Di banyak rumah, ia menjadi hiasan etnik, bukan alat bermain anak.
Di tengah gim-gim digital strategi modern, congklak kalah dari grafik mencolok dan sistem poin cepat. Padahal, congklak tak hanya melatih pikiran, tapi juga mengikat hubungan antara yang bermain—karena ia dimainkan sambil duduk dan berbicara.
3. Gobak Sodor – Strategi dan Keringat yang Tergusur

Gobak sodor, atau dikenal juga sebagai galah asin, adalah permainan beregu yang menggabungkan taktik dan fisik. Anak-anak dibagi dalam dua tim: satu bertugas menghadang, satu lagi mencoba menembus garis hingga kembali ke titik awal tanpa tersentuh lawan.
Permainan ini melatih kerja sama, kecepatan, refleks, dan keberanian. Ia seru, penuh tawa, dan membangun kekompakan. Sayangnya, tak banyak sekolah atau lingkungan yang menyediakan ruang dan waktu untuk memainkannya lagi.
Di era gim multiplayer online, anak-anak lebih sering “kerja sama” lewat headset ketimbang lapangan. Gobak sodor pun bertransformasi menjadi aktivitas musiman—muncul saat Agustusan, lalu menghilang lagi.
4. Petak Umpet – Sensasi Bersembunyi yang Kini Virtual

Siapa yang tak kenal petak umpet? Salah satu permainan paling ikonik dan lintas generasi ini dulu dimainkan hampir di setiap lingkungan: dari kampung kecil hingga halaman panti asuhan.
Petak umpet melatih keberanian, kelicikan sehat, kepekaan ruang, dan spontanitas. Tapi kini, permainan ini mengalami transisi: dari fisik menjadi virtual. Petak umpet versi gim digital tumbuh subur di platform ponsel dan konsol.
Namun sensasinya tak sama. Tak ada lagi degup jantung saat hampir ketahuan, tak ada lagi sensasi menang sembunyi di balik tumpukan karung beras atau balik pintu dapur. Petak umpet digital tak memberi debu, tak memberi geli tawa.
5. Gasing – Bunyi Mendengung yang Memudar

Gasing, dengan bentuknya yang sederhana, menyimpan seni dan teknik yang luar biasa. Diputar dengan tali, dilempar ke tanah, lalu berputar dengan mendengung pelan—gasing menjadi simbol kesabaran dan ketelitian.
Di banyak daerah seperti Minangkabau, Bugis, hingga Bali, gasing bahkan menjadi bagian dari festival budaya. Tapi di kehidupan sehari-hari, anak-anak nyaris tak memainkannya lagi. Bahkan toko mainan pun jarang menyediakan gasing kayu yang bisa dimainkan benar.
Sebagian besar anak sekarang lebih mengenal fidget spinner atau gim balapan. Padahal, gasing mengajarkan kontrol, teknik, dan fokus, tanpa harus memandangi layar.
6. Egrang – Meniti Ketegangan di Atas Bambu

Egrang adalah permainan berjalan di atas bambu yang memerlukan keseimbangan, kepercayaan diri, dan keberanian. Dulu, anak-anak menantang satu sama lain: siapa yang bisa berjalan lebih jauh tanpa jatuh. Ia kerap muncul dalam lomba 17 Agustus atau acara pasar malam.
Namun di era kekhawatiran cedera dan lahan bermain yang sempit, egrang perlahan terpinggirkan. Orang tua tak lagi mendorong, dan anak-anak tak lagi tertarik mencoba.
Egrang bukan hanya soal berjalan tinggi, tapi tentang mengatasi rasa takut dan menemukan irama langkah—sebuah metafora kecil tentang pertumbuhan.
7. Bola Bekel – Kejelian Jari yang Tergantikan Layar

Bola bekel adalah permainan memantulkan bola sambil mengambil biji logam kecil sesuai urutan. Umumnya dimainkan anak perempuan, permainan ini mengasah refleks, motorik halus, dan fokus.
Bola bekel dulu dimainkan sambil bersenda gurau, duduk di serambi rumah, atau di lantai ubin ruang tamu. Kini, ia tinggal cerita. Anak-anak lebih akrab dengan TikTok dan Roblox daripada mengambil biji bekel satu per satu.
Bola bekel memang kecil, tapi ia menyimpan dunia. Dunia yang pelan, presisi, dan memerlukan ketekunan—kebalikan dari ritme cepat hiburan hari ini.
Dolanan Tak Sekadar Mainan: Ia Adalah Identitas
Permainan tradisional adalah cerminan nilai sosial masyarakat kita: kebersamaan, sportivitas, kecerdikan, kerja sama, dan keberanian. Ia lebih dari sekadar kegiatan fisik; ia membentuk karakter anak melalui interaksi langsung dan pengalaman nyata.
Sayangnya, banyak anak hari ini tak lagi mengenal jenis-jenis permainan ini, bahkan tak tahu nama-namanya. Jika tidak dikenalkan ulang, permainan ini bisa hilang—bukan karena tak relevan, tapi karena dilupakan.
Dari Halaman ke Ruang Digital: Bisa Berdampingan
Pelestarian permainan tradisional tak harus berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, ia bisa menjadi bagian dari kurikulum sekolah, ekstrakurikuler, hingga konten media sosial kreatif. Bahkan, sejumlah komunitas mulai mendesain permainan tradisional sebagai aktivitas interaktif keluarga: anak dan orang tua bermain bersama, melepas layar sejenak.
Di kota seperti Yogyakarta dan Bandung, beberapa taman publik menyediakan zona dolanan tradisional. Di Bali, layang-layang masih menjadi festival tahunan. Artinya: permainan ini belum mati. Ia hanya tidur sebentar.
Agar Anak Tak Hanya Duduk, Tapi Juga Melompat
Dalam dunia yang makin digital, kita tak bisa melarang anak-anak bermain gim atau menatap layar. Tapi kita bisa memberi mereka pilihan—menghadirkan kembali dolanan tradisional bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai alternatif yang menyenangkan.
Karena saat anak melompat engklek, memutar gasing, atau bersembunyi dalam petak umpet, mereka tak sekadar bermain. Mereka sedang membangun tubuh, karakter, dan cinta terhadap akar budaya sendiri.
Jika kita tak memperkenalkannya, siapa lagi? @indonesiabuzz


