IndonesiaBuzz: Travel & Staycation – Jika Anda mencari pengalaman berbeda saat berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Bukit Scooter adalah jawabannya. Terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, destinasi ini menghadirkan panorama sunrise spektakuler dengan siluet Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang berdiri megah di cakrawala.
Fenomena lautan kabut yang menyelimuti kawasan Dieng menambah kesan mistis sekaligus romantis. Tak heran, Bukit Scooter kian digandrungi wisatawan, mulai dari fotografer, komunitas motor, pecinta alam, hingga pendaki yang ingin berburu momen magis di puncaknya.
Lebih dari sekadar spot foto, Bukit Scooter menawarkan suasana alami dan damai. Berbeda dengan destinasi yang sudah padat dan komersial, tempat ini mempertahankan ketenangan khas pegunungan. Lanskap alam yang nyaris tak tersentuh membuatnya menjadi pelarian ideal dari hiruk-pikuk kota.

Pemandangan Camping Ground di Bukit Scooter dataran tinggi Dieng
Momen terbaik menikmati Bukit Scooter adalah saat musim kemarau, antara Juni hingga September. Datanglah sekitar pukul 04.30–06.00 pagi, ketika kabut masih bergulung lembut dan mentari perlahan menyingkap langit.
Akses menuju lokasi relatif mudah, hanya 10 menit berkendara dari pusat Desa Dieng. Dari area parkir, wisatawan cukup berjalan kaki 5 sampai 10 menit untuk mencapai puncak. Meski jalannya menanjak dan sempit, usaha itu sepadan dengan panorama yang menanti. Warga setempat juga menyediakan fasilitas pendukung, mulai dari homestay, warung kopi, hingga jasa ojek untuk mengantar wisatawan ke titik utama.
Bukit Scooter membuktikan bahwa pesona Indonesia tidak hanya ada di pantai dan laut. Dataran tinggi seperti Dieng menyimpan pengalaman spiritual dan estetika yang lebih dalam sebuah pertemuan dengan alam yang menenangkan hati dan pikiran
Travel Tips: Bawa jaket tebal karena suhu di puncak bisa sangat dingin, siapkan kamera terbaik, dan jangan lewatkan menikmati kopi hangat di warung warga sebagai teman menyambut fajar.
Bukit Scooter bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang refleksi. Dalam diamnya pagi dan kabut yang bergulung, kita diingatkan betapa agungnya alam dan betapa pentingnya menjaga warisan ini untuk generasi mendatang (red). (Furkhan W/Koresponden Banjarnegara)







