Meski terseok dan tertatih langkah kecil tetap meniti
Bukankah Hati ini tergerak sebab kuasaMu?
Hanya sebatas manusia biasa yang terhanyut atas ciptaanMu
Bukan karena bersumber sebab gengsi
Dan bukan pula sebab pembuktian diri
Itu semua hanyalah sebatas kerendahan hati
Begitu banyak manusia menyebut sebagai hobi
Keinginan untuk mandiri, itulah semangat kami, lebih dari rasa ingin tahu, bukan pula tempat melarikan diri ,
Dan semuanya lebih tinggi dari sekedar rasa pasrah, kami berlatih dan melengkapi diri
pada gunung dan bukit-bukit batu
mengawasi tiap tiap sesuatu dengan insting dan pendengaran ekstra
Bahkan tak sulit membedakan warna-warna, meneliti jarak dari suara
Penuh canda-tawa, Semua terkabar dari cericit burung, desah irama gerimis pagi ini
Terus mengalun bisik, panggilan, suara suara sir juga gema yang menyebar lewat pohon pohon purba,
tebing, dan langit, juga aneka kisah magis,
di sini camp Saptoargo ku temui gerbang dimensi pintu rumah bagi ciptaan makhluk Allah lain nya
Belantara nan indah berlangit biru, pagi buta ini ku tapaki hutan Pegunungan Muria, di sambut satwa satwa di habitat nya, suara cuitan burung melambungkan imajinasi untuk merenung memahami filosofi
Kaki terus berpijak melangkah seakan tiada akhir
Lintasan Jalur setapak bersahabat jurang kiri tebing masa lalu dan kanan tebing masa depan,
menguras emosi konon di ini sebut jalur Naga
Sedangkan badan terikat beban carrier
Sebuah keharusan agar hati dapat satu arti(sabar)
Rimba sunyi mencekam
Membuat mulut membisu diam
Pohon pun berkata….
“Tenanglah manusia sikapmu itu adalah kebijaksanaanmu”
Pagiku bercengkerama indah di puncak Natas Angin
[Mt.Muria Puncak Natas Angin, 22-12-2019 ESP IB]







