IndonesiaBuzz: 26 Agustus 2024 – Remaja laki-laki di Indonesia menjadi kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Gangguan ini memicu adanya usaha percobaan bunuh diri.
Aktivis Kesehatan Mental, Renggi Ardiansyah, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membuat remaja laki-laki lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri adalah adanya stigma “toxic masculinity”. Stigma ini memaksa laki-laki untuk meredam emosi yang mereka rasakan dan menuntut mereka untuk selalu terlihat kuat dan baik-baik saja.
“Toxic masculinity mengajarkan bahwa laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh terlihat lemah, dan harus menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar Renggi.
Stigma ini membuat remaja laki-laki merasa takut untuk mengungkapkan emosinya kepada orangtua atau kerabat, sehingga mereka cenderung menyimpan masalahnya sendiri, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi mental mereka.
Renggi menekankan bahwa penting bagi setiap orang, terlepas dari jenis kelaminnya, untuk memiliki ruang aman dalam mengekspresikan emosi dan mendapatkan dukungan yang diperlukan. Gangguan kesehatan mental tidak mengenal gender, dan setiap individu berhak mendapatkan bantuan dan perhatian yang layak.
Berdasarkan data terbaru dari Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2021 menunjukkan bahwa prevalensi masalah kesehatan mental di kalangan:
- Remaja laki-laki usia 10-13 tahun mencapai 36,1%,
- Remaja laki-laki usia 14-17 tahun sebesar 33%.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun remaja perempuan lebih banyak mengalami gangguan kesehatan mental seperti
- Depresi (6,7% pada perempuan dan 4,8% pada laki-laki)
- Kecemasan (28,2% pada perempuan dan 25,4% pada laki-laki),
namun justru remaja laki-laki lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri.
Menurut laporan World Health Organization dalam GSHS Country Report Indonesia (2015), proporsi percobaan bunuh diri pada pelajar SLTP dan SLTA adalah 4,4% pada laki-laki, dibandingkan 3,4% pada perempuan.







