IndonesiaBuzz: Tulungagung, 8 Agustus 2025 – Di tengah gempuran bata ringan dan batako, dua kakak beradik asal Dusun Penggrong, Desa Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, tetap setia menjaga nyala tungku pembakaran. Jumat (8/8/25) siang, Suroso (65) dan Abidin (68) terlihat sibuk menata bata yang baru selesai dijemur kegiatan yang sudah mereka tekuni sejak 1982.
Pasar bata merah buatan mereka tak hanya berputar di Tulungagung, tapi juga merambah Trenggalek. Dengan harga Rp600 ribu per seribu bata, pesanan datang dari penjual maupun pemakai langsung. “Memang harganya sedikit lebih mahal dibanding batako, tapi bata merah lebih kuat dan rumah terasa lebih adem,” ujar Suroso sambil membetulkan tumpukan bata di tepi halaman.
Proses pembuatan bata merah penuh kesabaran. Tanah liat dibeli Rp180 ribu per rit truk, kemudian dicetak dan dijemur selama berhari-hari. Tahap akhir adalah pembakaran menggunakan merang; satu truk merang seharga Rp600 ribu cukup untuk membakar sekitar 6.000 bata.
Bagi Suroso dan Abidin, bata merah bukan sekadar barang dagangan. Ia adalah warisan keterampilan yang menghidupi keluarga, sekaligus menjaga kualitas bangunan tradisional. “Selama masih ada yang menghargai kualitas, bata merah tak akan hilang,” kata Abidin mantap, menegaskan bahwa tradisi bisa tetap kokoh meski modernisasi terus mengetuk pintu. (Ika Firgiyanti/Koresponden Tulungagung)







