
Oleh: Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Opini – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat baik pemerintah memastikan anak sekolah mendapat asupan gizi yang layak agar tumbuh sehat dan cerdas. Cita-cita itu jelas mulia. Namun, di level eksekusi, banyak persoalan yang muncul ke permukaan.
Kasus keracunan massal di sejumlah daerah hingga temuan hewan hidup dalam paket makanan siswa di Solo, menjadi alarm keras. Pertanyaannya apakah proses produksi makanan bergizi ini benar-benar diawasi dengan ketat, atau sekadar formalitas semata?
Di atas kertas, mekanisme MBG dijalankan lewat satuan pelayanan atau pihak ketiga yang ditentukan melalui proses lelang. Artinya, kualitas makanan sangat bergantung pada manajemen dapur hingga standar kebersihan yang diterapkan oleh penyedia jasa. Tapi faktanya, temuan-temuan di lapangan membuat publik bertanya-tanya: apakah seleksi penyedia hanya berorientasi pada harga termurah, sementara aspek kualitas terabaikan?
Pemerintah memang punya cita-cita besar lewat MBG. Tapi tanpa pengawasan ketat, niat baik ini bisa berbalik menjadi masalah serius. Anak-anak sekolah yang seharusnya mendapat gizi justru terancam kesehatannya.
Di titik ini, peran pemantauan dari Kementerian, dinas terkait, hingga sekolah jadi krusial. Jangan sampai program yang diimpikan jadi tonggak kemajuan malah berhenti di meja evaluasi tanpa perubahan nyata. Karena pada akhirnya, publik berhak bertanya MBG ini untuk meningkatkan gizi anak bangsa, atau hanya sekadar proyek belaka?@sigit







