IndonesiaBuzz: Surakarta, 8 September 2025 – Kraton Surakarta Hadiningrat menggelar HajadDalem Bethak di Pawon Gondorasan, Minggu (7/9/25) malam. Prosesi adat yang digelar setiap delapan tahun sekali ini dipimpin langsung oleh SISKS Pakoe Boewono XIII, didampingi GKR Prameswari Dalem GKR Pakoe Boewono bersama KGPH Adipati Dipokusumo, GKR Timoer Rumbai, GKR Alit, Gray Ratih, Rayi Dalem, Wayah Dalem, sentono dalem dan abdi dalem.
Upacara dimulai dengan prosesi penyalaan api menggunakan kayu yang berasal dari tujuh tempat sakral. Air yang digunakan untuk keperluan ritual juga diambil dari sejumlah sumber suci yang dipercaya memiliki makna simbolik. Api tersebut kemudian dipakai untuk memasak nasi atau adang, yang menjadi inti dari rangkaian acara.
Suasana prosesi semakin khusyuk ketika ulama kraton membacakan lantunan sholawat yang disambut dengan kekhidmatan oleh sentono dan abdi dalem. Kehadiran keluarga besar kraton turut menambah kekuatan simbolis acara, yang diyakini sebagai wujud doa bersama bagi keberkahan masyarakat dan kelestarian budaya Jawa.
KGPH Adipati Dipokusumo, Pangageng Parentah Kraton Surakarta, menjelaskan bahwa acara ini merupakan tradisi yang hanya dilakukan pada Tahun Dal dalam siklus penanggalan Jawa.
“Prosesi Adang ini dilaksanakan setiap delapan tahun sekali pada Tahun Dal,” jelasnya.
Ia menegaskan, prosesi tersebut bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah diterima.
“Tujuannya agar berkah rezeki bisa memberi manfaat dan barokah. Semoga Allah SWT memberikan kelancaran pada upacara yang kita lakukan tiap delapan tahun sekali ini,” tegasnya.
Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari warisan budaya Kraton Surakarta. Selain memiliki nilai spiritual, upacara ini juga berfungsi mempererat ikatan antara keluarga kraton, abdi dalem, dan masyarakat sekitar. Pelaksanaan ritual yang terjaga hingga kini menjadi bukti komitmen kraton dalam melestarikan tradisi Jawa di tengah arus modernisasi.
HajadDalem ini tidak hanya mencerminkan rasa syukur, tetapi juga menjadi pengingat akan peran kraton sebagai pusat spiritual sekaligus budaya di Jawa. Prosesi ini dipandang sebagai momentum menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.(Dimas P – Red)







