IndonesiaBuzz: Surakarta, 15 September 2025 – Atas titah SISKS Pakoe Boewono XIII, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melaksanakan prosesi pembongkaran Pawon Gondorasan sebagai penutup rangkaian Bethak (Adang) Warsa Dal 1959, yang digelar di pawon Gondorasan pada minggu (14/9/25) pagi.
Prosesi sakral ini dilakukan setelah seluruh tahapan upacara Bethak selesai. Para abdi dalem secara bergiliran meruntuhkan dinding dan tungku besar yang menjadi ciri khas Pawon Gondorasan. Setiap material, mulai dari batu bata, kayu, hingga kerikil, dikumpulkan dengan hati-hati, kemudian dipilah untuk selanjutnya dibawa ke Pantai Parangkusumo, Yogyakarta, guna dilabuh sebagai bagian dari tradisi Kraton Surakarta.
Pembongkaran pawon ini dihadiri oleh utusan dalem, sentono dalem, serta abdi dalem, yang menyaksikan prosesi dengan penuh khidmat. Kehadiran mereka mencerminkan pentingnya pelestarian nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam tradisi turun-temurun tersebut.
Sentono Dalem Kraton Surakarta, Kanjeng Pangeran Wandiro, menyampaikan bahwa pembongkaran Pawon Gondorasan bukan hanya sebatas kegiatan fisik, melainkan sarat makna filosofis.
“Tradisi ini bukan semata-mata merobohkan bangunan, tetapi merupakan simbol pengingat bahwa masyarakat Jawa harus senantiasa siap menghadapi perubahan zaman. Sejarah mengajarkan kita untuk dinamis, berkembang, namun tetap berakar pada nilai-nilai budaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa labuhan material bangunan ke laut di Parangkusumo memiliki makna spiritual sebagai simbol penyucian dan pengembalian unsur bumi kepada asalnya. Hal ini diyakini sebagai bentuk harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dengan selesainya pembongkaran Pawon Gondorasan yang nantinya akan dilabuh di pantai Parangkusumo, menandai selesainya seluruh rangkaian prosesi Bethak (Adang) Warsa Dal 1959.(Riko P – Red)







