IndonesiaBuzz: Jakarta, 7 Maret 2026 – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan akan terus menelusuri aliran dana dalam perkara dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa outsourcing yang menyeret Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan. Penelusuran tersebut dilakukan untuk mengungkap kemungkinan adanya transaksi mencurigakan lain yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan penyidik masih mendalami berbagai transaksi yang diduga berkaitan dengan praktik korupsi tersebut.
“Apakah ada transaksi-transaksi lain yang kemudian mencurigakan. Ini nanti masih akan terus kita telusuri,” kata Budi dalam keterangannya, Sabtu (7/3/26).
Dalam proses penelusuran itu, KPK juga menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) guna memeriksa pergerakan dana serta transaksi keuangan yang diduga terkait dengan perkara tersebut. Salah satu fokus penyelidikan adalah aliran keluar-masuk dana dari perusahaan PT Raja Nusantara Berjaya (PT RNB).
Menurut Budi, penyidik tengah mendalami kemungkinan perusahaan tersebut digunakan sebagai sarana penyamaran atau layering dana dari berbagai penerimaan yang tidak sah.
“Apakah kemudian PT RNB ini juga digunakan sebagai layering untuk penerimaan-penerimaan lainnya, atau digunakan sebagai layering untuk pengadaan-pengadaan barang dan jasa lainnya, ini masih akan terus kita bedah,” ujarnya.
KPK sebelumnya mengungkap bahwa PT RNB didirikan oleh Fadia Arafiq bersama anggota keluarganya. Perusahaan itu diduga dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan dari proyek pengadaan barang dan jasa outsourcing di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
Perusahaan tersebut diketahui berdiri sekitar satu tahun setelah Fadia dilantik sebagai Bupati Pekalongan untuk periode 2021–2025. Dalam penyelidikan awal, KPK menemukan indikasi bahwa Fadia memiliki kendali penuh terhadap operasional perusahaan, terutama terkait pengelolaan keuangan.
“Pengelolaan perusahaan tersebut bupati punya kendali penuh untuk mengatur uang masuk, uang keluar, termasuk juga pembagian uang kepada para keluarga ataupun pihak lainnya,” kata Budi.
Tidak hanya dalam aspek keuangan, penyidik juga menduga Fadia memiliki pengaruh besar dalam penentuan struktur jabatan di perusahaan tersebut. Posisi direktur hingga jabatan strategis lain diduga diisi oleh keluarga maupun orang-orang kepercayaan sang bupati.
“Direktur itu dari pihak keluarga ataupun dari orang-orang kepercayaan bupati,” ungkap Budi.
KPK menegaskan proses penelusuran aliran dana masih terus berjalan untuk mengungkap secara utuh pihak-pihak yang terlibat serta potensi tindak pidana korupsi lain yang berkaitan dengan perkara tersebut. @yudi







