IndonesiaBuzz: Jakarta, 22 Mei 2026 – Komite Nasional Keselamatan Transportasi mengungkap sejumlah dugaan faktor penyebab kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan rangkaian Commuter Line.
Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/26), Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut salah satu faktor utama yang ditemukan sementara adalah gangguan visibilitas sinyal akibat distraksi cahaya di sekitar jalur kereta.
“Yang pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut,” ujar Soerjanto.
Menurut KNKT, masinis dan asisten masinis diduga tidak dapat melihat sinyal bantu secara optimal karena terganggu cahaya dari lingkungan sekitar rel, termasuk lampu pasar dan permukiman warga.
“Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi,” katanya.
Selain faktor sinyal, KNKT juga menyoroti adanya jeda komunikasi antarpetugas pengendali perjalanan kereta yang dinilai terlalu panjang dalam situasi darurat.
Soerjanto menjelaskan laporan awal kecelakaan antara KRL dan mobil taksi pertama kali diterima pengendali perjalanan wilayah selatan, sementara perjalanan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah pengendali wilayah timur.
Akibatnya, informasi harus diteruskan berjenjang sebelum akhirnya masinis KA Argo Bromo Anggrek dapat dihubungi.
“Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” jelasnya.
KNKT menilai sistem komunikasi antarpetugas pengendali perjalanan perlu dibenahi agar proses penyampaian informasi dalam kondisi darurat dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.
“Selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya KA 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi unsafe condition. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Yang ketiga adalah masalah komunikasi,” ungkap Soerjanto.
Meski demikian, KNKT menegaskan seluruh paparan yang disampaikan dalam rapat DPR masih berupa data faktual awal dan belum menjadi kesimpulan resmi investigasi.
“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus turut mempertanyakan status sinyal KA Argo Bromo Anggrek sebelum tabrakan terjadi.
“Berarti kesimpulan yang didapat oleh KNKT waktu terjadi tabrakan antara kereta dengan mobil, terus bergeraklah kereta Argo Anggrek dan terjadilah menabrak kereta Commuter Line itu sinyalnya sudah hijau Pak ya?” tanya Lasarus.
Soerjanto membenarkan bahwa saat itu KA Argo Bromo Anggrek memang mendapatkan sinyal hijau untuk melintas.
“Sinyalnya hijau Pak,” jawabnya.
Lasarus kemudian mempertanyakan mengapa sinyal tetap hijau meskipun terdapat hambatan di jalur di depannya.
“Harusnya merah kan Pak ya? karena di depan ada obstacle,” ujar Lasarus.
KNKT kembali menegaskan investigasi masih berjalan dan belum menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan.
Dalam pemaparannya, KNKT juga mengungkap jeda waktu antara kecelakaan awal Commuter Line dengan mobil taksi hingga tabrakan KA Argo Bromo Anggrek hanya sekitar tiga menit 43 detik.
“Jadi antara tabrakan KA 5181 dengan taksi dan jeda waktu dengan KA Anggrek tabrakan dengan Commuter Line 5568 sekitar 3 menit 43 detik,” kata Soerjanto.
Berdasarkan kronologi sementara, KA 5568A Commuter Line masuk dan berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur sekitar pukul 20.48 WIB. Setelah proses naik turun penumpang, rangkaian sempat bergerak sejauh 1,69 meter sebelum berhenti kembali karena masinis melihat kerumunan warga di jalur.
Di waktu hampir bersamaan, terjadi tabrakan antara KA 5181 Commuter Line dengan mobil taksi di perlintasan sebidang Bekasi Timur.
Sementara itu, KA Argo Bromo Anggrek mulai bergerak dari jalur 3 Stasiun Bekasi pada pukul 20.50 WIB dengan sinyal keluar beraspek hijau sebelum akhirnya menabrak rangkaian Commuter Line yang masih berada di area Bekasi Timur pada pukul 20.52 WIB.
Kecelakaan tersebut menyebabkan 16 penumpang, mayoritas berada di gerbong wanita, meninggal dunia.
Peristiwa ini kembali memunculkan sorotan terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional, khususnya terkait integrasi sinyal, sistem komunikasi darurat, dan pengamanan perlintasan sebidang di kawasan padat perkotaan. @yudi







