“Tidak semua cinta berakhir dengan memiliki. Tapi sebagian cinta, justru melahirkan pemahaman yang abadi.”
Surakarta, 23 Juni 2025
Langit Jogja sore itu redup. Seperti perasaan Arya, mahasiswa tingkat akhir jurusan Sejarah Budaya, yang sedang duduk di tangga candi kecil peninggalan abad ke-9 di lereng selatan Gunung Merapi. Buku catatannya terbuka, tapi tak satu pun kata tertulis.
Sore itu bukan tentang penelitian. Tapi tentang Lintang.
Gadis itu datang sebulan lalu, sebagai peserta magang dari kampus di Bandung. Wajahnya biasa saja, tapi matanya… seperti menyimpan musim hujan di bulan kemarau.
Mereka dipasangkan untuk proyek akhir semester: mendokumentasikan kisah lisan dari warga desa sekitar Candi Kedulan. Tugas sederhana. Tapi entah bagaimana, di sela-sela rekaman dan wawancara, hati Arya jadi sibuk mencatat hal lain senyum Lintang, tawa ringannya, cara ia menghargai setiap cerita orang tua, seolah sejarah bukan kumpulan peristiwa mati, tapi napas yang hidup.
Di hari ketiga belas, mereka duduk bersama di depan rumah Pak Suparman, juru pelihara candi.
“Kamu tahu, candi itu nggak pernah dibangun sendirian,” kata Lintang. “Selalu ada komunitas di baliknya. Tukang batu, tukang ukir, bahkan ibu-ibu yang masak untuk para pekerja. Tapi mereka semua tidak tercatat namanya. Hilang.”
Arya menatapnya.
“Kamu kasihan?” tanyanya.
“Bukan kasihan,” jawab Lintang. “Aku cuma merasa… ada cinta yang tulus di situ. Mereka membangun sesuatu yang mereka tahu takkan dikenal siapa yang mengukirnya. Tapi tetap melakukannya. Karena mereka percaya, sesuatu yang baik akan abadi… meski tak diingat.”
Dan Arya tahu, sejak saat itu, ia jatuh cinta.
Di hari kedua puluh satu, Lintang pamit. Ia harus kembali ke Bandung. Magangnya selesai. Proyek pun rampung.
Di bandara, Arya memberinya selembar kertas. Bukan surat cinta. Bukan puisi. Hanya satu kalimat:
“Sejarah bukan tentang siapa yang dikenang. Tapi tentang siapa yang tetap menjaga, bahkan saat tak lagi bersama.”
Lintang membacanya, tersenyum, lalu berkata, “Jangan berhenti mencintai hal-hal yang tak bisa kamu miliki. Karena di sanalah kita belajar tentang ketulusan.”
Lalu ia pergi. Tanpa pelukan. Tanpa janji. Tapi dengan pemahaman yang sunyi.
Tiga tahun kemudian, Arya jadi dosen muda. Ia masih sering ke Candi Kedulan. Tapi bukan untuk menunggu Lintang kembali. Hanya untuk duduk diam, merasakan angin, dan mengingat bahwa cinta seperti batu tua di candi mungkin tidak berubah apa-apa, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang.







