IndonesiaBuzz: Ngawi, 13 September 2025 – Di tengah gencarnya Pemerintah Kabupaten Ngawi di bawah kepemimpinan Bupati Ony Anwar Harsono dan Wakil Bupati Dwi Rianto Jatmiko (Ony–Antok) mendorong sektor pertanian, perhatian seolah masih terpusat pada komoditas padi. Padahal, di balik suksesnya produksi beras, petani di sektor lain justru menghadapi nasib sebaliknya, salah satunya petani tembakau.
Data yang dihimpun menyebutkan, luas lahan pertanian tembakau di Ngawi mencapai sekitar 2.000 hektare yang tersebar di 14 kecamatan. Namun, pada musim tanam dan panen tahun ini, hanya sekitar 1.500 hektare yang berhasil ditanami. Dari angka itu, realisasi panen lebih menyusut lagi, tidak sampai 1.000 hektare. Sisanya, sekitar 500 hektare mengalami gagal panen akibat cuaca kemarau basah yang justru masih sering diguyur hujan.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Ngawi, Sojo, mengungkapkan kondisi sulit yang menimpa para petani. “Tahun ini estimasi lahan kita sebenarnya mendekati 2.000 hektare. Tapi realisasi tanam tidak lebih dari 1.500 hektare. Menjelang musim tanam banyak yang gagal tanam karena berhadapan dengan cuaca kemarau basah. Dari sekitar 1.500 hektare realisasi tanam, yang bisa panen juga tidak lebih dari 1.000 hektare,” jelas Sojo saat ditemui di kantor DPRD Ngawi, Jumat (12/9/25petani
).
Sojo yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Ngawi ini menambahkan, kondisi cuaca menyebabkan penurunan drastis produktivitas tembakau. Biasanya, setiap hektare lahan mampu menghasilkan hingga 1,8 ton tembakau kering. Namun tahun ini, hasil panen anjlok hingga hanya sekitar 1 ton per hektare.
“Kalau kondisi normal bisa 1,8 ton per hektare. Tapi tahun ini jangan berharap 1,8, dapat 1 ton saja sudah bagus. Tidak ada rendemen karena cuaca tidak mendukung. Tanaman tembakau itu butuh panas, sedangkan kemarin di awal sampai pertengahan Agustus justru masih sering hujan,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menyebutkan sebagian petani terpaksa mengalihkan lahannya menjadi sawah padi lantaran tanaman tembakau rusak sebelum panen. Sementara mengenai kerugian, APTI Ngawi belum dapat memberikan angka pasti karena proses panen masih berlangsung.
“Kerugian belum bisa dihitung karena panen masih berjalan. Harapannya, meski produksi rendah, harga jual masih bisa tinggi supaya bisa menutup kerugian,” tambah Sojo.
Namun harapan itu tampaknya pupus. Bukannya stabil, harga jual tembakau justru turun drastis. Saat ini, harga berada di kisaran Rp20.000–Rp40.000 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp50.000.
“Kalau produksi rendah tapi harga juga rendah, hancur petani. Hari ini harga terendah Rp20 ribu dan tertinggi Rp40 ribu. Padahal sebelumnya sudah hampir Rp50 ribu. Tapi dalam tiga sampai empat hari terakhir ini harga turun karena banyak pembeli memilih off atau tidak membeli,” tegasnya.
Kini, petani tembakau di Kabupaten Ngawi rata-rata sudah masuk masa panen kedua hingga ketiga atau pertengahan musim panen raya. Namun alih-alih mendapat keuntungan, mereka justru dihadapkan pada ancaman kerugian besar akibat kombinasi gagal panen dan jatuhnya harga pasar. (Esaputra/Koresponden Ngawi)







