IndonesiaBuzz: New York –Hubungan erat antara mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan CEO Tesla serta SpaceX, Elon Musk, kini resmi berakhir setelah perseteruan publik yang semakin memanas. Awalnya dikenal sebagai sekutu politik yang kuat, konflik ini kini berdampak signifikan pada dunia politik dan ekonomi AS.
Penyebab Keretakan: Perbedaan Sikap Soal RUU Fiskal
Kisruh bermula dari ketidaksepakatan Musk terhadap RUU belanja besar yang diusung Trump, yang dikenal dengan julukan “One Big Beautiful Bill.” Elon Musk secara terbuka menyebut RUU tersebut sebagai “abominasi menjijikkan” karena dianggap akan meningkatkan defisit anggaran negara secara drastis.
Menanggapi kritik tersebut, Trump menegaskan bahwa Musk dianggap tidak menghormati jabatan Presiden dan memperingatkan adanya “konsekuensi serius” jika Musk mendukung kandidat Demokrat yang menolak RUU tersebut.
Kontroversi Klaim dan Ancaman Trump
Ketegangan semakin meningkat ketika Musk memposting klaim kontroversial yang mengaitkan Trump dengan kasus Jeffrey Epstein, meski kemudian postingan itu dihapus. Balasan Trump tidak kalah tajam; ia menyebut Musk sebagai “gila” dan mengancam akan memotong subsidi serta kontrak pemerintah kepada perusahaan Musk, termasuk Starlink dan SpaceX.
Dalam wawancara dengan NBC News, Trump menegaskan, “Hubungan kami sudah berakhir, dan Elon Musk harus menghadapi konsekuensi serius jika ia mendukung lawan politik saya.”
Dampak Politik dan Ekonomi
Perpecahan ini bukan hanya soal hubungan pribadi, tetapi juga membawa dampak besar bagi ekonomi dan politik Amerika Serikat. Tesla, yang selama ini menikmati dukungan pemerintah, kini menghadapi ketidakpastian karena potensi pemotongan subsidi dan kontrak penting.
Di sisi politik, konflik ini menambah polarisasi di antara pemilih dan donor, memperuncing perbedaan dukungan antara kubu Trump dan Musk.
Kondisi Elon Musk dan Respons Keluarga
Errol Musk, ayah Elon, mengungkapkan bahwa putranya mengalami tekanan mental berat akibat keterlibatan dalam dunia politik yang kompleks. Ia bahkan menyebut pengalaman ini sebagai “PTSD Gedung Putih” dan menyarankan Elon untuk kembali fokus pada inovasi teknologi dan bisnis.
Upaya Meredakan Ketegangan
Meski hubungan sudah retak, Musk mencoba meredakan suasana dengan membagikan postingan Trump yang mengkritik Gubernur California Gavin Newsom terkait kerusuhan di Los Angeles. Namun, upaya tersebut belum mampu memperbaiki hubungan yang telah retak.
Kisah perpecahan antara Donald Trump dan Elon Musk menjadi cermin nyata bagaimana dinamika politik dapat mempengaruhi hubungan bisnis dan pribadi tokoh-tokoh berpengaruh. Konflik ini memperlihatkan tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan politik dan bisnis di era modern.







