IndonesiaBuzz: Cinta & Kesehatan Mental – Hubungan Tanpa Status (HTS), atau yang lebih akrab disebut situationship, kian akrab dalam lanskap relasi anak muda hari ini. Bagi sebagian besar Gen Z, ikatan yang cair, tanpa label, dan bebas dari ekspektasi jangka panjang menjadi pola relasi yang dianggap “aman”. Mereka bisa saling memberi perhatian, berbagi cerita, bahkan menjalani hari-hari layaknya pasangan, tanpa perlu repot membahas komitmen.
Namun di balik kenyamanan semu itu, tersimpan dilema yang kompleks: Gen Z menginginkan keintiman, tapi takut berkomitmen. Mereka haus akan koneksi emosional, tapi enggan membangun ikatan yang mengikat.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Generasi Lelah yang Tak Ingin Ditambahi Beban
Tekanan hidup yang dialami Gen Z bukan perkara remeh. Menurut survei YouGov dan data WHO, kelompok usia ini mengalami tingkat stres dan kecemasan tertinggi dibanding generasi lain. Mulai dari ketidakpastian masa depan, persaingan karier yang brutal, hingga ekspektasi sosial yang dipicu oleh algoritma media sosial. Semuanya membentuk generasi yang secara mental kelelahan.
“HTS itu seperti safe zone,” ujar Meira (24), seorang desainer lepas di Jakarta. “Gue bisa dekat sama seseorang, tapi tetap punya kontrol penuh atas hidup gue.”
Luka yang Tak Disadari, Takut yang Tak Terucap
Tumbuh di tengah meningkatnya perceraian, skandal publik, dan narasi soal “hubungan toxic” yang berseliweran di TikTok maupun Twitter, banyak Gen Z membentuk pola pikir defensif dalam percintaan. Komitmen dipandang sebagai jalan yang berisiko tinggi: patah hati, kekecewaan, kehilangan arah.
“Dulu pernah pacaran serius, tapi ending-nya gue yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Sejak itu, HTS jadi pilihan gue. Kalau sakit, setidaknya gak terlalu dalam,” kata Dito (25), karyawan startup teknologi.
Cinta, Tapi Nunggu Stabil Finansial
Alasan lainnya lebih membumi: urusan dompet. Data BPS menyebutkan mayoritas Gen Z di Indonesia masih berpenghasilan di bawah Rp 2,5 juta per bulan. Untuk membangun rumah tangga, harga rumah, biaya hidup, hingga inflasi jadi batu sandungan yang nyata.
“Ngapain mikirin nikah kalau makan aja masih ngatur-ngatur?” celetuk Yola (23), pekerja kreatif. “Kita sayang, tapi kita juga realistis.”
Otonomi Jadi Identitas Baru
Nilai-nilai individualisme makin lekat di kalangan muda. Kebebasan untuk berkembang, berekspresi, dan merancang hidup tanpa intervensi pasangan jadi alasan kuat untuk menunda (atau menghindari) komitmen.
HTS memungkinkan semua itu. Hubungan bisa tetap ada, tanpa harus kehilangan ruang personal. “Kalau aku bisa bahagia sendiri dan tetap punya seseorang buat ngobrol atau peluk, kenapa harus ribet status?” ungkap Vian (22), mahasiswa komunikasi.
Digitalisasi dan Budaya Menghilang
Ironisnya, meski dikenal lihai berkomunikasi di dunia digital, Gen Z sering kesulitan dalam membangun percakapan mendalam. Konflik atau obrolan serius tentang perasaan kerap dihindari. Maka muncullah budaya ghosting, menghilang tanpa penjelasan.
HTS pun jadi lahan subur: tak ada definisi, tak ada tanggung jawab, tak ada kewajiban memberi kabar.
Hubungan tanpa status bukan sekadar tren; ia adalah cermin dari lanskap psikologis dan sosial Gen Z hari ini. Di balik tawa-tawa ringan dalam chat, dan story berdua yang tak pernah diberi caption, ada generasi yang ingin dicintai, tapi takut kehilangan diri sendiri. Generasi yang akrab dengan emosi, namun terasing dari kedalaman relasi.
Di zaman ketika semuanya bisa di-skip, mungkin komitmen terasa seperti iklan YouTube yang tak bisa di-skip. Mengganggu, mengikat, tapi siapa tahu… justru itulah yang menyelamatkan kita dari kesepian algoritmis. @jjpamungkas







