Indonesiabuzz.com : Nasional, 23 Desember 2024 – Sukarno, sang proklamator kemerdekaan RI yang juga merupakan Presiden Pertama RI, santer dikabarkan memiliki emas hingga seberat 57 ton, yang isunya tersimpan di dalam sebuah bank di Swiss. Kabarnya, emas tersebut dipinjamkan oleh Sukarno kepada Presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy pada tahun 1963 yang digunakan untuk pembangunan negeri Paman Sam.
Kabar banyaknya emas yang dimiliki Sukarno tersebut berbanding terbalik dengan fakta yang ada, dimana Sukarno memberikan pengakuan bahwa dirinya hidup susah.
Pengakuannya tersebut dikatakan ketika Sukarno diwawancarai oleh jurnalis asal Amerika Serikat, Cindy Adams. Dalam wawancara tersebut, Sukarno mengatakan bahwa gaji yang ia terima selama jadi presiden hanyalah sebesar US$ 220. Dia juga mengatakan bahwa dirinya bahkan tidak memiliki rumah maupun tanah. Hal itu dibenarkan, mengingat Sukarno hidup dari istana ke istana laim yang dimiliki oleh negara.
“Adakah Kepala Negara yang melarat seperti aku dan sering meminjam-minjam dari ajudannya?” kata Sukarno dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams.
Bahkan dalam wawancaranya dengan Cindy Adams dia bercerita, karena sangat miskin, dirinya pernah akan diberi sebuah gedung oleh rakyatnya dengan cara patungan. Namun hal itu ditolak oleh Sukarno dengan dalih bahwa dirinya tak mau merepotkan.
Dikutip dari Media Indonesia, anak pertama Sukarno, Guntur Sukarnoputra membenarkan pernyataan ayahnya. Guntur menyatakan bahwa sejak sebelum menjabat sebagai Presiden RI, ayahnya diketahui berkantong tipis. Bahkan Sukarno diketahui sering meminjam uang kepada sahabatnya, contohnya seperti Agoes Moesin Dasaad.
“Sebagai presiden, Bung Karno adalah presiden yang paling miskin di dunia ini. Ia tidak punya tanah, tidak punya rumah, apalagi logam-logam mulia seperti yang digembar-gemborkan orang selama ini,” kata Guntur.
Sedangkan sejarawan terkemuka Indonesia Ong Hok Ham, juga cukup tegas dalam membantah rumor tentang Sukarno yang memiliki harta tak terhingga tersebut.
Ong Hok Ham menulis dalam bukunya, Kuasa dan Negara (1983) bahwa tidak mungkin ada seseorang yang mewarisi harta dari kerajaan kuno, apalagi mewariskan batangan emas. Harta kerajaan kuno tidak sebesar yang dibayangkan, apalagi saat itu Mataram Islam disebut masih punya utang besar kepada VOC.
Ong juga menulis, kalau kisah harta Sukarno sebenarnya bisa dipatahkan dengan argumen sederhana yaitu, jika Sukarno memang punya emas sebanyak itu, seharusnya Sukarno tidak melarat hingga akhir hayatnya. (Puthut-Red)







