IndonesiaBuzz: Surakarta, 6 September 2024 – Festival Payung Indonesia (FESPIN XI) resmi dibuka, Jumat (6/9/2024) di Taman Balekambang, Surakarta. Festival tahunan ini menghadirkan pertunjukan seni tari, musik, dan fashion show yang menjadi daya tarik utama acara tersebut. Acara pembukaan ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang penuh warna dan sarat budaya.
Direktur Festival Payung Indonesia, Heru Mataya di temui IndonesiaBuzz.com di sela-sela acara, mengungkapkan bahwa tema yang diusung tahun ini sangat istimewa, yaitu “Catra Wastra”. Tema ini memadukan simbol payung nusantara dengan keindahan kain tradisional nusantara.
“Catra itu payung dan wastra itu kain nusantara. Ini merupakan perpaduan yang sangat unik, dua khazanah budaya yang menjadi inspirasi bagi para kreator payung di Indonesia, baik yang tradisional maupun kontemporer,” jelas Heru.
Taman Balekambang yang telah direnovasi dipilih sebagai lokasi festival, menciptakan suasana yang harmonis dengan tema budaya yang diusung.

Direktur Festival Payung Indonesia, Heru Mataya
“Kami ingin festival ini merespons lingkungan, menyesuaikan suasana Taman Balekambang sebagai venue festival,” tambahnya.
Festival kali ini melibatkan lebih dari 1.000 seniman dan artisan dari 35 kota di Indonesia, serta menyajikan 98 pertunjukan seni. Lebih dari 2.000 payung menghiasi Taman Balekambang, menambah keindahan dan semarak festival.
“Payung-payung ini hadir dalam berbagai ukuran, baik besar maupun kecil,” kata Heru.
Lebih dari sekadar dekorasi, Heru menegaskan bahwa payung dalam festival ini memiliki makna yang lebih dalam.
“Payung bukan hanya hiasan, tapi juga visi dari festival ini. Kehadiran peserta dari berbagai daerah melambangkan bahwa setiap daerah memiliki tradisi payung yang kaya,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya latar belakang budaya dalam penggunaan payung di Festival Payung Indonesia.
“Kami tidak hanya memasang payung tanpa makna. Setiap payung yang dipajang di sini selalu memiliki latar belakang budaya yang diangkat dari tradisi setempat,” ungkap Heru.
Ia juga berharap, festival ini dapat menjadi bagian dari festival rakyat yang memperkuat eksistensi para pengrajin payung di Indonesia.
“Semoga Festival Payung Indonesia bisa bermanfaat bagi para pengrajin payung dan menjadi sumber kreasi dari berbagai disiplin ilmu. Kami berharap payung sebagai pusaka budaya mendapat tempat yang sama seperti keris dan batik yang telah menjadi tradisi nusantara,” tutupnya.







