Tulang-tulang waktu mencicit di balik remang,
dinding batu bersaksi pada gema yang tertimbun:
satu suara,
tidak lahir, tidak mati,
hanya menggeliat dalam serat udara yang perih.
Langit menunduk pada kota yang tidur dengan mata terbuka,
lampu-lampu menyusun mantra
bagi langkah yang tak bisa pulang.
Di ujung lorong,
bayang bukan milik tubuh
dan tubuh bukan milik siapa-siapa.
Di sini, keheningan bukan kekosongan
ia mengandung jerit
yang ditelan pelan oleh jeda,
oleh detik yang kehilangan musim.
Tuhan tak dijemput.
Doa tak dilafalkan.
Yang tinggal hanya ritus diam
dan darah yang menua di balik kuku.
Seseorang pernah menyalakan harapan di dahi malam,
tapi angin mencurinya,
menyimpannya di jantung bumi
bersama nama-nama yang tak pernah dipanggil lagi.
Luka membentuk puisi
tanpa lidah, tanpa tinta
hanya arus panas
yang tak bisa ditulis ulang. (Jeje)







