IndonesiaBuzz: Digital Life – “Gue cuma mau buka TikTok sebentar…” Kalimat klasik ini nyaris setara dengan “gue cuma numpang tidur doang di kosan mantan.” Pada kenyataannya, kita masuk terlalu dalam dan susah keluar.
Timeline bukan lagi sekadar deretan konten lucu dan estetis. Ia sudah menjelma menjadi curator digital pribadi yang bisa menyenangkan, tapi juga mengendalikan.
Pertanyaannya sekarang: apakah kita masih pegang kendali atas isi timeline kita, atau semuanya sudah dikooptasi algoritma?
Spoiler: jawabannya nggak sesimpel itu.
Algoritma: Sahabat Karib yang Terlalu Tahu
Di balik wajah ceria aplikasi-aplikasi media sosial, ada sistem rumit yang bekerja tanpa lelah mempelajari kita. TikTok punya For You Page, Instagram punya Explore, dan X punya linimasa rekomendasi yang aneh tapi menarik. Semua itu digerakkan oleh satu entitas: algoritma, makhluk digital tak bernyawa tapi sangat ambisius.
Menurut riset dari Archrival (2023), 54% Gen Z menghabiskan minimal 4 jam per hari di media sosial. Dan lebih dari itu, 50% merasa algoritma lebih paham mereka daripada orang tua sendiri.
Kita jadi tahu siapa kita dari apa yang ditawarkan algoritma—dan itu agak menyeramkan. Bayangkan, mesin tahu kamu suka video kucing galau, akun tarot, teori konspirasi Korea, dan debat kelas tiga tentang privilege… padahal kamu sendiri belum tentu sadar itu bagian dari minatmu.
Ini bukan kebetulan. Setiap like, pause, dan scroll yang kita lakukan adalah sinyal cinta untuk mesin. Algoritma membalas dengan konten lebih dalam, lebih tajam, lebih relate. Sampai-sampai, kita merasa timeline itu milik pribadi. Padahal, dia dibangun untuk memaksimalkan satu hal: atensi kita.
Efek Samping: Kenyamanan yang Menyesatkan
Masalah muncul saat kita terlalu betah. Algoritma, yang katanya personalized, ternyata juga menyesatkan. Kita terjebak dalam filter bubble—konten yang kita suka terus muncul, sudut pandang yang berbeda makin jarang terlihat. Ujung-ujungnya:
- Wawasan kita makin sempit, meski timeline terasa luas.
- Kita merasa pintar karena timeline setuju dengan opini kita sendiri.
- Kita makin takut ketinggalan tren (FOMO parah).
- Dan waktu? Habis, tapi kita lupa ke mana perginya.
Studi Kompasiana 2023 menyebut Gen Z makin nyaman di gelembungnya sendiri. Informasi yang masuk itu-itu aja. Bahkan ada istilah baru: “dimanjakan algoritma”—di mana pengguna tak perlu lagi berpikir keras atau mencari tahu. Konten datang sendiri, tinggal geser jempol.
Sementara itu, para psikolog mengingatkan bahwa algoritma ini tidak netral. Ia memicu engagement dengan cara apa pun—termasuk menyodorkan konten negatif, provokatif, bahkan destruktif. Dalam dunia algoritma, emosi negatif lebih diklik, dan itu berarti lebih laris.
Gen Z Melawan Balik: Feed Bukan Takdir
Tapi Gen Z bukan generasi pasrah.
Mereka bukan cuma korban, tapi juga pengguna aktif yang mulai paham cara main algoritma.
Beberapa strategi perlawanan yang makin populer:
1. Melatih Algoritma
Gen Z mulai sadar bahwa algoritma bisa dilatih. Mereka sengaja memilih konten yang sehat, edukatif, atau inspiratif untuk di-like dan share, agar mesin mulai menyesuaikan isi timeline mereka. Seorang pengguna X bahkan membagikan pengalaman unfollow ratusan akun “beracun” dalam satu malam—hasilnya? Timeline lebih adem, dan mood membaik.
2. Digital Detox
Menurut Cropink (2025), 63% Gen Z berencana ambil jeda dari medsos. Alasan mereka beragam: dari burnout, krisis eksistensial, sampai sekadar pengen “ngerasa hidup beneran.” Ini bukan cuma tren gaya-gayaan, tapi bentuk protes diam terhadap overload konten.
3. Pindah Platform & Mode
Beberapa memilih menjauh dari algoritma sepenuhnya. Mereka pindah ke newsletter, forum komunitas, atau baca Substack. Yang masih bertahan di Instagram dan X, mulai beralih ke mode Following (feed kronologis). Memang tidak selalu default, tapi cukup ampuh untuk meredam racikan algoritma.
Feed yang Dikurasi = Mental yang Lebih Sehat?
Para ahli sepakat: kurasi mandiri adalah bentuk literasi digital tingkat lanjut.
Kita memang tak bisa menghindari algoritma sepenuhnya, tapi kita bisa membuatnya ikut maunya kita. Caranya?
- Follow akun yang memberdayakan, bukan memanipulasi.
- Hindari konten dramatis yang bikin stres.
- Gunakan fitur mute, restrict, dan limit screen time.
- Dan sesekali: log out. Beneran.
Saat kita mulai mengambil peran sebagai kurator, bukan konsumen pasif, kesehatan mental juga ikut terbantu. Kita tidak lagi merasa kewalahan oleh banjir konten, dan bisa mulai menikmati media sosial dengan sadar.
Siapa yang Jadi Bos?
Kita hidup di zaman di mana algoritma tahu banyak hal—bahkan yang nggak kita sadari tentang diri sendiri. Tapi seperti GPS yang canggih, dia hanya alat bantu. Kita tetap pengemudi. Masalahnya, mau nggak kita rebut kembali setirnya?
Karena feed itu seperti kamar: bisa nyaman, bisa berantakan, tergantung siapa yang ngatur.
Kalau kita diam aja, algoritma yang bersih-bersih (dengan caranya sendiri). Tapi kalau kita mulai kurasi, minimal kita bisa ngatur suasana hati sendiri.
Jadi, pertanyaan awalnya bukan cuma “apakah kita masih punya kendali atas timeline?” Tapi: “mau atau nggak kita ambil kendali itu kembali?” @wartonagoro







