IndonesiaBuzz: Jakarta, Minggu (21/1/2024) – Debat para calon wakil presiden (Cawapres) di Jakarta Convention Center, Minggu (21/1/2024), membuat panas media sosial. Perang udara para pendukung terjadi di media sosial X, sepanjang pukul 19.00-22.00.
Menurut Drone Emprit, platform pemantau media sosial, tercatat setidaknya 355.409 penyebutan nama-nama cawapres. Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, mendominasi dengan 142.469 kali penyebutan. Disusul oleh nomor urut 1, Muhaimin Iskandar, sebanyak 141.293 kali. Sedangkan, nomor urut 3, Mahfud MD, 71.647 kali.
Namun, perhatian terhadap Gibran dalam debat Cawapres itu, didominasi sentimen negatif, yakni sebanyak 60%. Sementara sentimen positif 33 persen dan netral 7 persen.
”Gibran, please stop it. This whole ’trying to embarrass Cak Imin’ is embarassing TO YOU”, cuit akun @nabiylarisfa. Cuitan ini disukai 46.900 kali dan memiliki 394 balasan, hingga pukul 20.57.
Adapun kata-kata yang mendominasi cuitan terhadap Gibran adalah Tom Lembong, merendahkan, menghormati, menjebak, melecehkan, cringe, songong, savage, recehan, hilirisasi.
Menurut Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, terdapat satu kluster besar berwarna merah yang menandakan sentimen negatif terhadap Gibran. Kluster ini mayoritas terdiri dari akun-akun netral. Ada juga dari kalangan pendukung Muhaimin.
Selain itu, media yang turut membahas dalam konteks negatif. Sementara kluster pro-Gibran cenderung sangat kecil dan dimotori oleh beberapa akun influencer yang jumlahnya tidak banyak.
Selain itu, potongan video debat cawapres pun turut bertebaran lewat cuitan-cuitan. Video itu memperlihatkan gestur atau gerakan Gibran seperti mencari sesuatu di sekitar podium. Sikap Gibran ini dinilai pengguna X sebagai tindakan yang tidak sopan. Mereka juga menyoroti pemilihan kata dan gaya komunikasi Gibran kepada dua cawapres lainnya.
Muhaimin Iskandar Mendapatkan Sentimen Positif
Sementara itu, sebaliknya, Muhaimin Iskandar mendapatkan sentimen positif. Sebanyak 80 persen dari 355.409 penyebutan namanya. Cuitan positif berasal dari pendukung pribadinya dan kalangan netral.
Drone Emprit juga menemukan dua kluster yang terlibat dalam percakapan tentang Muhaimin, terdiri dari kalangan pendukungnya dan netral, serta kluster kedua yang dipimpin oleh akun @DPNAminBalad. Kluster kedua diduga dipengaruhi oleh akun-akun robot.
Mahfud MD, meskipun jumlah penyebutan lebih sedikit, mendapatkan sentimen positif sebanyak 79 persen. Analisis Drone Emprit menemukan satu kluster besar berwarna hijau, yang menciptakan sentimen positif dari kalangan pro-Muhaimin, Mahfud, dan netral.
”Walaupun eksposur medianya lebih rendah, pandangan terhadap Mahfud MD cenderung positif di antara mereka yang berbicara tentangnya,” kata Fahmi.
Salah satu cuitan tentang Mahfud berasal dari akun @erasmus70. Ia menyebut, ”Pak Mahfud tegas, tak mau menjawab pertanyaan jebakan. Beliau tahu, apa pun jawabannya, tujuan dari Gibran adalah merendahkan bukan menguji pemikiran…”
Menurut Ismail Fahmi, fenomena ini terbatas pada platform X, di mana pergeseran dukungan dari pemilu sebelumnya terlihat. Dalam konteks media sosial lainnya, seperti TikTok, pasangan Prabowo-Gibran mendominasi konten, menunjukkan pengaruh yang berbeda di antara platform-platform tersebut.
Tanggapan Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka
Anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Dradjad H Wibowo, menegaskan bahwa sentimen negatif terhadap Gibran di media sosial tidak menggerus elektabilitas pasangan tersebut. Hal ini karena mayoritas sentimen negatif berasal dari akun-akun yang memiliki kecenderungan negatif terhadap Presiden Joko Widodo, Prabowo, dan Gibran.
Di sisi lain, kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan pada Pilpres 2024 justru mewajari hal itu. Dalam istilah Jawa, gaya debat Gibran disebut “wis wayahe”, yang berarti sudah waktunya.
”Selama ini, kan, Mas Gibran diam saja ketika di-bully. Namun, memang ada sebagian yang reaksinya berbeda (berlawanan),” kata Dradjad.
Ferry Irwandi, Co-Founder Malaka Project, menyoroti dominasi TikTok sebagai platform media sosial yang berbeda dari X. Dengan jumlah pengguna yang jauh lebih besar, TikTok mencerminkan pergeseran perilaku pemilih muda yang lebih memilih platform yang dianggap lebih positif dan kurang kontroversial.
”Di X terdapat 11 juta pengguna, 30-40 persen saja yang aktif. Sementara Tiktok ada 113 juta pengguna. Jumlah pengguna X hanya sekian persen dari pengguna Tiktok,” katanya.
Adapun data itu bersumber dari laporan We Are Social per April 2023. Secara global, pengguna Tiktok diperkirakan mencapai angka 1,09 miliar yang mayoritas penggunanya atau 38,5 persen berusia 18-24 tahun.
Pertarungan opini publik di dunia maya menunjukkan kompleksitas preferensi masyarakat, yang menciptakan dinamika politik yang semakin sulit diprediksi. Meskipun X dan TikTok memiliki segmen pengguna yang berbeda, pergeseran dukungan dan sentimen masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden. @indonesiabuzz







