IndonesiaBuzz: Karanganyar, 19 Oktober 2025 – Suasana belajar mengaji di TPQ Fathul Ilmi, Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, berubah mencekam pada Sabtu (18/10/25) malam. Sebuah bangunan joglo semi permanen yang digunakan sebagai tempat mengaji mendadak ambruk usai diterjang hujan deras disertai angin kencang, menimpa belasan anak anak santri dan pengajar yang tengah berada di dalamnya.
Camat Gondangrejo, Sriono Budi Santosa atau yang akrab disapa Edo, membenarkan insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa bangunan joglo itu sudah beberapa bulan terakhir digunakan sebagai tempat kegiatan TPQ Fathul Ilmi, dan saat kejadian tengah berlangsung kegiatan mengaji rutin malam hari.
“Bangunan joglo itu kan semi permanen, belum tertutup semua dindingnya, jadi terbuka. Sekitar pukul 19.00 WIB terjadi hujan deras disertai angin kencang, dan saat itu kegiatan TPQ sedang berlangsung,” ujar Edo, Minggu (19/10/25).
Dalam kegiatan tersebut, terdapat 12 santri, satu orang tua, dan satu ustaz yang berada di lokasi. Ketika angin kencang datang, struktur bangunan roboh, menimpa para peserta TPQ. Beruntung, sebagian bangunan masih disangga oleh satu tiang utama, sehingga proses evakuasi bisa dilakukan sebelum seluruh struktur runtuh.
“Ada 12 anak, tapi kalau total korban jadi 14 orang, termasuk ustaz dan orang tua santri. Saat kejadian, semua panik. Untungnya masih ada satu tiang yang menyangga, jadi tidak tertimpa seluruhnya,” jelasnya.
Para korban segera dievakuasi ke RS dr Oen Solo Baru dan klinik terdekat. Dari total korban, lima orang dirawat di RS dr Oen, dua di klinik, sementara sisanya diizinkan pulang karena hanya mengalami luka ringan. Namun, dua korban yang sempat dipulangkan kembali mengalami muntah-muntah dan akhirnya dirujuk ke RS dr Oen, sehingga total tujuh orang kini masih menjalani perawatan medis.
“Yang luka ringan dibawa ke klinik, tapi dua di antaranya sempat dibawa pulang dan kembali dirujuk karena muntah-muntah. Jadi total ada tujuh korban yang dirawat di RS dr Oen,” terang Edo.
Bangunan joglo yang ambruk diketahui milik salah satu warga Desa Wonosari. Menurut Edo, bangunan tersebut baru berdiri sekitar satu tahun dan awalnya akan difungsikan sebagai pondok pesantren. Namun, karena belum digunakan secara penuh, warga memanfaatkannya untuk kegiatan TPQ anak anak setempat.
“Itu milik warga, rencananya memang mau dijadikan pondok. Karena masih kosong, akhirnya dipakai untuk TPQ. Biasanya anak-anak SD dari sekitar situ yang ikut, usia sekitar kelas 3 sampai kelas 5,” tuturnya.
Hingga Minggu pagi, kondisi seluruh korban dilaporkan dalam keadaan sadar dan stabil, meski masih menjalani observasi medis di rumah sakit. Pemerintah kecamatan bersama perangkat desa turut memantau kondisi para korban dan membantu proses penanganan.
Edo mengimbau agar warga lebih berhati hati menggunakan bangunan semi permanen, terutama saat cuaca ekstrem seperti hujan dan angin kencang yang kerap melanda wilayah Karanganyar belakangan ini.
“Kami imbau kegiatan sementara dihentikan dulu di lokasi itu sampai ada pemeriksaan struktur bangunan. Keselamatan anak-anak dan masyarakat menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (red)







