Oleh: KRA. H. Andri Winarso Wartonagoro (Jurnalis, Pemerhati Budaya)
Di tanah kota, warisan berkilau,
Imitasi mulai, seperti lukisan palsu.
Ia yang bertingkah bak raja,
Menyisakan tanya, fakta atau sandiwara?
Janji-janji indah terlontar begitu saja,
Namun realitas memudar, seperti bayang-bayang senja.
Pembangunan hanyalah sandiwara belaka,
Warisan imitasi, mengapa begini adanya?
Raja kota yang gemerlap dengan katanya bijaksana,
Tapi nyatanya, hanya ilusi belaka.
Bangunan megah terasa kosong tak bermakna,
Warisan menjadi gurauan tawa hampa.
Rakyat sibuk dengan beban hidup mereka,
Sementara ia congkak di singgasana palsunya.
Rakyat terpinggirkan dalam kemegahan hampa,
Warisan imitasi, mencoreng kota yang sebenarnya.
Infrastruktur bersinar, tapi bagi siapa?
Hanya bagi mereka yang berkata, berapa.
Para jelata hanya bisa memandangnya,
Berpura-pura menganga, berkata luar biasa.
Prestise menjadi prioritas, bukan pelayanan,
Raja kota mengabaikan suara rakyat kecil.
Kritik diabaikan, suara rakyat ditutupi,
Warisan imitasi, hanyalah simbol kepalsuannya.
Tanah subur tergusur demi proyek pendulang harta,
Seolah-olah pembangunan adalah tujuan utama.
Raja kota merasa seperti pemilik bawana,
Angkuh ia terbahak, terinjak para jelata dipaksa tertawa.
Media dijaga, kritik dibungkam,
Raja kota tak tahan diuji dalam sorot lampu.
Demokrasi hanya sebatas omong kosong,
Raja kota semakin gila.
Wajah kota berseri, tapi hati terluka,
Para jelata bertepuk tangan merana,
Takutnya meraja, menuntut haknya,
Mereka bungkam, menyadari imitasi takkan pernah sejati.
@indonesiabuzz







