IndonesiaBuzz: Trenggalek, 22 September 2025 – Proses ekskavasi cagar budaya di Dusun Gondang Kidul RT.11/RW.02, Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Trenggalek, hingga kini belum menunjukkan kelanjutan. Penemuan awal yang sempat mengundang antusiasme masyarakat dan ahli purbakala itu terhenti akibat keterbatasan anggaran.
Penemuan cagar budaya tersebut berawal pada 2018 oleh Syaifudin (35), yang akrab disapa Mas Asep. Ia mengaku pertama kali bermimpi bertemu seorang kakek tua yang meminta dirinya menjaga halaman rumahnya. Awalnya, ia mengira itu hanyalah bunga tidur biasa. Namun beberapa hari kemudian mimpi serupa kembali datang, kali ini memintanya menggali tanah di halaman rumahnya.

Lokasi ekskavasi cagar budaya di Dusun Gondang Kidul, Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Trenggalek
“Setelah beberapa saat mencangkul, saya menyentuh sesuatu yang keras. Ternyata itu sebuah arca,” ujar Asep, Senin (22/9/25).
Penemuan awal ini kemudian dilaporkan ke tim pelestarian kebudayaan dari Trowulan. Hasil ekskavasi mengungkap beberapa arca dan sisa-sisa bangunan candi yang berserakan. Dari temuan tersebut, tim berhasil mengamankan enam arca, lima di antaranya diserahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Trenggalek, sementara satu disimpan oleh Asep sendiri.
Berdasarkan penelitian awal, candi ini diperkirakan berasal dari era Mataram Kuno dan difungsikan sebagai tempat beribadah. Salah satu arca yang ditemukan merupakan Arca Resi Agastya. Struktur bangunan candi diperkirakan memiliki tinggi sekitar tujuh meter dengan luas dasar enam meter persegi.
Meski memiliki potensi arkeologis dan sejarah yang tinggi, proses ekskavasi dan restorasi candi hingga saat ini tidak dilanjutkan. Keterbatasan anggaran menjadi alasan utama yang menghambat kelanjutan proyek.
Asep berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melanjutkan proses pelestarian cagar budaya tersebut. Masih terdapat susunan tangga dan struktur lain yang tertimbun tanah, yang berpotensi menambah pemahaman tentang candi Mataram Kuno di wilayah Trenggalek.
“Semoga ke depannya proses ekskavasi bisa berlanjut. Masih banyak yang perlu digali dan diselamatkan,” kata Asep.(Ika Firgiyanti/Koresponden Trenggalek)







