IndonesiaBuzz: Wonogiri, 11 Agustus 2026 – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 menjadi momentum bagi Kabupaten Wonogiri untuk kembali menegaskan komitmen terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak. Membangun masa depan bangsa, kata Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, harus dimulai dari bagaimana anak diperlakukan dan dilindungi hari ini.
Pesan tersebut mengemuka dalam Resepsi Peringatan HAN ke-42 yang digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Selasa (11/8/26). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setyo mengatakan anak-anak bukan sekadar generasi penerus bangsa. Mereka merupakan pemilik masa depan yang saat ini membutuhkan ruang untuk tumbuh, didengar, dilindungi, serta diberi kesempatan mengembangkan potensi.
“Anak yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik adalah dambaan kita semua, karena akan menjadi penentu masa depan bangsa. Sehingga harus kita jaga, kita lindungi, agar dapat tumbuh menjadi generasi penerus yang mandiri dan sukses,” ujar Setyo.
Komitmen Pemkab Wonogiri dalam memenuhi hak anak sebelumnya membuahkan penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Madya pada 2025.
Penghargaan tersebut merupakan hasil dukungan berbagai unsur, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, komunitas, organisasi masyarakat, hingga masyarakat secara luas.
Namun, Setyo menegaskan penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir. Masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama, terutama menyangkut kasus kekerasan terhadap anak dan perkawinan anak di bawah umur yang masih terjadi di Wonogiri.
Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa pemenuhan hak anak masih membutuhkan penguatan, baik dari sisi kebijakan maupun kesadaran lingkungan tempat anak tumbuh.
Karena itu, perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan anak berada di lingkungan yang aman dan sehat.
Salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Wonogiri adalah membangun sistem perlindungan perempuan dan anak hingga tingkat kecamatan.
Setyo menyebut saat ini telah terbentuk dan berfungsi 26 Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA), sekaligus dilakukan inisiasi pembentukan di 19 kecamatan lainnya.
“Dengan demikian, seluruh 25 kecamatan di Kabupaten Wonogiri telah memiliki Satgas RPAA,” imbuhnya.
Selain penguatan di tingkat kecamatan, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) juga terus difungsikan untuk melakukan pencegahan sekaligus penanganan persoalan secara menyeluruh.
Keberadaan lembaga tersebut diharapkan mampu memastikan anak yang menghadapi persoalan memperoleh perlindungan dan hak-haknya tetap terpenuhi.
Setyo mengingatkan masih banyak persoalan yang berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak. Mulai dari perundungan atau bullying, kekerasan terhadap anak, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga berbagai persoalan sosial lainnya.
Persoalan tersebut membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat reaktif setelah kejadian, tetapi juga melalui edukasi dan pencegahan sejak dini.
“Jika secara kelembagaan sudah dibentuk satu sistem yang kuat, harapan kita bersama, masyarakat juga semakin memiliki kesadaran untuk menghadirkan lingkungan yang sehat bagi anak-anak dalam mempersiapkan diri menuju masa depan,” kata Setyo.
Menurutnya, mencintai anak juga tidak dapat diukur hanya dari pemenuhan kebutuhan materi. Anak membutuhkan perhatian, penghormatan, serta ruang untuk menyampaikan pandangan.
Kasih sayang, kata dia, juga berarti memberikan hak kepada anak untuk berpendapat dan mendengarkan suara mereka dalam berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan.
Anak harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan. Dengan demikian, peringatan HAN tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa kualitas masa depan bangsa sangat ditentukan oleh seberapa baik anak-anak hari ini tumbuh, berkembang, dan mendapatkan perlindungan. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).





