IndonesiaBuzz: Tulungagung, 27 Agustus 2025 – Usaha budidaya ikan mas koki dan bibit gurami di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terbukti mampu memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan berkelanjutan bagi keluarga pelaku usaha.
Mujani, salah seorang pembudidaya ikan di desa tersebut, telah menekuni usaha ini sejak 1997.
Ia mengaku sempat beberapa kali mencoba mengganti jenis ikan yang dibudidayakan, namun akhirnya memilih fokus pada ikan hias mas koki dan bibit gurami karena dinilai lebih stabil dari sisi permintaan pasar serta memberikan keuntungan yang lebih besar.
“Dulu saya pernah mencoba jenis ikan lain, tetapi mas koki dan gurami lebih menjanjikan. Pasarnya jelas dan permintaannya cukup tinggi,” ujar Mujani.
Setiap ekor ikan mas koki dengan ukuran 10 sentimeter dipasarkan dengan harga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, sementara bibit gurami berukuran sekitar 3 sentimeter dijual Rp1.000 per ekor. Dengan masa panen setiap tiga bulan, Mujani mampu memperoleh omzet rata-rata Rp3 juta per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan, ia masih memanfaatkan cacing sutra yang diperoleh langsung dari sungai di sekitar wilayah setempat. Menurutnya, penggunaan pakan alami ini lebih hemat sekaligus baik bagi pertumbuhan ikan.
Hasil budidaya sebagian besar dipasarkan melalui tengkulak yang kemudian menyalurkannya ke berbagai daerah, termasuk ke Jakarta. Sebagian lainnya dijual langsung kepada masyarakat sekitar Tulungagung yang datang membeli bibit maupun ikan hias.
“Alhamdulillah usaha ini bisa terus berjalan dan menjadi penopang ekonomi keluarga. Permintaan juga masih cukup stabil, sehingga kami optimistis usaha ini tetap bisa bertahan,” tambahnya.
Budidaya ikan koki dan gurami di Desa Tanggung menjadi salah satu contoh usaha ekonomi produktif masyarakat pedesaan yang berkembang secara mandiri. Kehadiran usaha ini tidak hanya menambah sumber penghasilan warga, tetapi juga membuka peluang distribusi hasil perikanan ke pasar yang lebih luas.(Ika Firgiyanti/Koresponden Trengalek-TA)







