IndonesiaBuzz: Kuliner – Bubur Sengkolo, yang juga dikenal dengan nama Bubur Merah Putih, merupakan sajian tradisional yang tak terpisahkan dari acara selametan dalam masyarakat Jawa. Tradisi ini bukan hanya sekadar hidangan, melainkan merupakan ungkapan doa dan penyerahan diri kepada Tuhan. Keberadaan Bubur Sengkolo mencerminkan harapan akan keberkahan dan keselamatan, serta pengakuan akan keterbatasan manusia.
Menurut berbagai sumber, tradisi selametan dengan Bubur Sengkolo telah ada sejak jauh sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke nusantara. Meski demikian, masuknya agama-agama tersebut membawa perubahan dalam pelaksanaan tradisi ini, termasuk pada makna dan simbolisme Bubur Sengkolo.
Dalam bukunya “Jenang Sengkolo, Manifestasi Kesungguhan Doa” (2019), Dini Damayanti menjelaskan bahwa bubur merah dalam Bubur Sengkolo melambangkan indung telur, sedangkan bubur putih melambangkan sperma. Artinya, Bubur Sengkolo melambangkan peran kedua orang tua dalam kehidupan anak, sebagai perantara yang memulai kehidupan seseorang di dunia.
Selain itu, Bubur Sengkolo juga diartikan sebagai simbol tulang dan darah, merah dan putih, yang mengisyaratkan kembali kepada kesucian dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam masyarakat Jawa, bubur ini dipercaya memiliki kekuatan sebagai penolak bala dan penghindar dari kesialan.
Bubur Sengkolo biasanya disajikan dalam berbagai acara selametan, seperti kelahiran bayi, pernikahan, musim tanam, musim panen, serta pendirian rumah. Ketika agama Islam masuk ke nusantara, nilai-nilai Islam turut mempengaruhi makna Bubur Sengkolo, menjadikannya sebagai simbol doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembagian Bubur Sengkolo kepada tetangga dan kerabat juga dianggap sebagai amal sosial, memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian dalam masyarakat.
Dengan keberagaman makna dan perannya, Bubur Sengkolo tetap menjadi sajian yang penting dan penuh makna dalam tradisi selametan masyarakat Jawa.







