IndonesiaBuzz: Wanita — Isu soal pakaian perempuan kerap kali menjadi sorotan publik, bahkan dipakai sebagai standar moralitas. Perempuan sering kali menjadi pihak yang dituding “mengundang” jika terjadi kekerasan atau pelecehan, seolah-olah kesopanan berpakaian adalah tanggung jawab satu arah. Padahal, berpakaian sopan bukan semata urusan perempuan—melainkan bagian dari etika sosial yang berlaku untuk semua orang
Di banyak ruang publik, masih sering terdengar komentar seperti “pantas saja, lihat saja bajunya,” atau “kalau nggak mau diganggu, ya berpakaian yang sopan dong.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesopanan berpakaian masih dijadikan tameng untuk membenarkan tindakan yang tidak pantas dari orang lain, terutama terhadap perempuan.
“Ini bukan soal baju, ini soal pola pikir. Kalau berpakaian menjadi alasan pembenar pelecehan, maka kita sedang menyalahkan korban, bukan mencegah pelaku,” jelas Alya Nurisya, aktivis perempuan dari Jakarta Feminist Collective.
Berpakaian sopan adalah bagian dari norma dan tata krama sosial yang diterapkan di masyarakat. Ia berlaku untuk siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin. Dalam konteks budaya, kesopanan berpakaian seringkali ditentukan oleh situasi dan tempat, bukan oleh siapa yang mengenakan pakaian itu.
“Etika berpakaian itu kontekstual. Berbeda antara berpakaian ke kantor, ke pantai, atau ke rumah ibadah. Tapi jangan sampai konteks ini hanya dibebankan pada perempuan saja,” tambah Alya.
Alih-alih terus menekan perempuan untuk menyesuaikan diri dengan “standar sopan” yang kerap bias gender, pendidikan tentang kesadaran sosial dan pengendalian diri seharusnya diperkuat, terutama kepada laki-laki sejak usia dini.
“Daripada bilang ‘perempuan jangan pakai baju terbuka’, lebih baik ajarkan anak laki-laki untuk menghormati semua orang tanpa memandang pakaian yang dikenakan,” tegas dr. Mia Sundari, psikolog sosial.
Dengan cara ini, kita menempatkan kesopanan sebagai nilai universal, bukan alat kontrol terhadap tubuh perempuan.
Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kekerasan seksual terjadi bukan karena pakaian korban, tetapi karena ketimpangan kuasa dan kurangnya edukasi gender di masyarakat. Ini menjadi bukti bahwa argumentasi “sopan tidaknya” pakaian sebagai akar masalah adalah mitos yang merugikan perempuan dan menutupi akar permasalahan sebenarnya.







